Wapenja.com – Puncak arus mudik Lebaran 2026 kembali menyingkap rapuhnya manajemen lalu lintas nasional. Ribuan kendaraan menumpuk di jalur utama, dari Tol Jakarta–Cikampek hingga penyeberangan Gilimanuk, dengan antrean yang mencapai puluhan kilometer.
Meski pemerintah menerapkan rekayasa lalu lintas berupa contraflow dan sistem one way, efektivitasnya dipertanyakan. Banyak pemudik mengeluhkan bahwa kebijakan tersebut hanya memberi jeda sesaat, sementara kepadatan tetap berulang di titik-titik rawan.
Pengamat transportasi menilai, masalah utama bukan sekadar teknis rekayasa, melainkan ketidakseimbangan antara kapasitas jalan dan lonjakan kendaraan. Tanpa strategi jangka panjang—seperti diversifikasi moda transportasi, pembatasan kendaraan pribadi, dan penguatan angkutan massal—kemacetan mudik akan terus menjadi ritual tahunan.












