Ketua Umum MASDA Jabar Dorong Pemajuan Budaya ‘Langkung Sae’: Momen Milangkala Paguyuban Dangiang Rundayan Talaga Jadi Langkah Awal   

Wapenja.com/Majalengka – Semangat melestarikan dan memajukan kebudayaan lokal bergema kencang di kawasan Wisata Gununglaya, Desa Argasari, Kabupaten Majalengka. Di lokasi tersebut, Paguyuban Budaya Dangiang Rundayan Talaga merayakan milangkala atau hari jadi pertamanya, sebuah momen bersejarah yang dihadiri tokoh adat, pejabat daerah, utusan keraton se-Tatar Sunda, serta masyarakat luas yang antusias mendukung kelestarian warisan leluhur.

Acara ini menjadi wadah pertemuan lintas unsur masyarakat, yang dipenuhi kehangatan dan rasa persaudaraan. Hadir secara langsung Ketua Umum Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat, Irjen Pol (Purn.) DR. Drs. H. Anton Charliyan, MPKN – yang lebih akrab disapa Abah Anton, mantan Kapolda Jawa Barat yang kini aktif memperjuangkan nilai-nilai budaya Sunda. Turut hadir Bupati Majalengka H. Eman Suherman, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Anggota DPRD Kabupaten Majalengka Daerah Pemilihan 4, utusan resmi dari Keraton Kasepuhan Cirebon, Keraton Kanoman Cirebon, serta Keraton Sumedang Larang, Rabu (13/05).

Kehadiran para pemangku adat dan pejabat ini semakin melengkapi suasana sakral dan meriah acara, disertai kehadiran para Kepala Desa, tokoh masyarakat seperti Kang Ohang Deni Mulyadi, Ceu Popon, Abah H. Baya, Abah H. Tatang, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan dan pemuda, antara lain Pemuda Pancasila, Manggala Garuda Putih dari Tasikmalaya, hingga kelompok budaya Cilogak Padakembang dari wilayah yang sama. Keberagaman peserta ini membuktikan bahwa budaya menjadi ikatan kuat yang menyatukan berbagai elemen masyarakat di wilayah ini.

Sebagai puncak kemeriahan milangkala pertama ini, digelar beragam pagelaran seni dan budaya khas daerah yang memukau seluruh tamu undangan maupun warga yang datang. Panggung utama dipenuhi atraksi memukau mulai dari pertunjukan silat yang memadukan keahlian bela diri dan nilai seni, debus yang menampilkan kekuatan fisik dan keyakinan budaya, hingga tarian Jaipong yang energik dan penuh semangat – kesenian yang menjadi ikon identitas masyarakat Sunda. Penampilan ini tidak sekadar hiburan, melainkan wujud nyata pewarisan nilai-nilai budaya agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.

Dalam sambutannya, Bupati Majalengka H. Eman Suherman menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mengangkat derajat kebudayaan di wilayahnya. Ia menyampaikan visi bahwa pemajuan budaya di Majalengka tidak hanya harus menjadi “Langkung Sae” atau lebih baik, melainkan harus mencapai taraf “Sae Pisan” atau sangat baik – sejalan dengan moto pembangunan Kabupaten Majalengka yang berfokus pada kemajuan di segala sektor.

Menurut Bupati Eman, Majalengka memiliki modal sosial dan budaya yang luar biasa besar sebagai dasar untuk mewujudkan visi tersebut. “Kita sudah memiliki Museum Talaga Manggung yang berdiri kokoh sebagai pusat pelestarian sejarah, serta wilayah yang kaya akan situs-situs bersejarah dan berbagai jenis kesenian asli. Tidak hanya itu, Majalengka juga dikenal dengan kekayaan kuliner khas seperti Pituin, motif batik unik yang menjadi ciri khas daerah, serta keindahan alam yang tiada tara – wilayah kita dikelilingi pegunungan yang asri dan dihiasi danau yang indah. Semua ini adalah aset berharga yang harus kita kembangkan secara maksimal, hingga benar-benar menjadi kebanggaan bersama,” ujar Bupati Eman.

Lebih jauh ia menambahkan, kekuatan lain yang dimiliki Majalengka adalah antusiasme masyarakat yang tinggi dalam setiap kegiatan budaya. Hal ini menjadi energi utama agar pelestarian budaya terus berjalan. Sebagai wujud tindak lanjut, pemerintah daerah merencanakan kegiatan besar: pada 3 Agustus 2026 mendatang, akan digelar Pagelaran Budaya Akbar yang mengerahkan seluruh kekuatan unsur budaya yang ada di Majalengka, bahkan melibatkan kekayaan budaya se-Tatar Sunda. Kegiatan besar ini direncanakan akan dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Barat KDM, sebagai bentuk dukungan tingkat provinsi. Menutup sambutannya, Bupati memberikan makna tambahan pada kata “SAE” – yang juga berarti “Sahabat Akang Eman”, sebuah pesan akrab bahwa kemajuan budaya adalah tugas bersama dan kita semua adalah sahabat dalam perjuangan ini.

Sementara itu, Ketua Umum MASDA Jabar sekaligus Ketua Dewan Penasihat Paguyuban Budaya Dangiang Rundayan Talaga, Abah Anton Charliyan, memberikan pandangan mendalam dari sisi sejarah dan adat. Ia sepenuhnya mendukung visi Bupati agar Majalengka menjadi yang terdepan dalam pemajuan budaya di Jawa Barat.

“Majalengka bukan daerah biasa dalam sejarah kebudayaan Sunda. Berdasarkan catatan sejarah, wilayah ini bukan hanya pernah menjadi pusat satu kerajaan, melainkan tempat lahir dan berkembangnya tiga kerajaan besar Sunda pada sekitar abad ke-15 Masehi, yaitu Kerajaan Talaga Manggung, Kerajaan Raja Galuh, dan Kerajaan Sindangkasih. Hal ini sangat istimewa, karena di kabupaten atau kota lain di Jawa Barat, jarang sekali ada wilayah yang memiliki jejak sejarah tiga kerajaan besar sekaligus,” jelas Abah Anton.

Kondisi historis tersebut, lanjutnya, membuktikan bahwa masyarakat Majalengka sejak zaman dahulu sudah memiliki sistem budaya, tata kelola kehidupan, dan peradaban yang sangat tinggi. Warisan inilah yang menjadi modal utama agar Majalengka bisa melampaui daerah lain dalam hal pelestarian dan pengembangan budaya. “MASDA Jabar memberikan dukungan penuh sepenuh hati. Kami yakin, dengan kekayaan sejarah dan semangat masyarakat, Majalengka pasti bisa menjadi contoh daerah yang pemajuan budayanya Langkung Sae bahkan Sae Pisan,” tegas Abah Anton.

Di sisi lain, Ketua Panitia Pelaksana acara, Abah H. Ujang, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan milangkala pertama ini dengan lancar dan meriah. Berbicara kepada awak media di lokasi acara, ia menyampaikan bahwa kehadiran tokoh adat, pejabat, serta antusiasme masyarakat menjadi kebanggaan tersendiri bagi paguyuban.

“Alhamdulillah, segala prosesi berjalan sesuai rencana. Kami sangat berterima kasih atas kehadiran Bupati, Ketua Umum MASDA Jabar, para pejabat, anggota DPRD, dan seluruh masyarakat yang sudah mendukung. Tentunya sebagai penyelenggara, kami memohon maaf apabila masih ada hal yang kurang maksimal dalam pelayanan maupun persiapan. Namun ini adalah langkah awal, dan Insya Allah untuk kegiatan-kegiatan mendatang, kami akan menyusun acara yang lebih besar, lebih meriah, dan lebih baik lagi demi kelestarian budaya kita,” ujar Abah H. Ujang.

Acara milangkala pertama ini ditutup dengan rangkaian prosesi adat yang penuh makna, dimulai dari pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan harapan kemajuan, sesi foto bersama seluruh peserta dan tamu kehormatan sebagai dokumentasi sejarah, dilanjutkan waktu istirahat (isoma), dan diakhiri dengan tradisi botram atau makan bersama di lokasi kafe kawasan Wisata Argasari. Suasana makan bersama ini menjadi penutup yang indah, di mana kebersamaan dan rasa persaudaraan semakin terjalin erat, seolah menjadi janji bersama untuk terus menjaga, melestarikan, dan memajukan kebudayaan Sunda, khususnya yang tumbuh subur di tanah Majalengka.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan masa depan. Dengan semangat “Langkung Sae” dan dukungan seluruh elemen masyarakat, Majalengka bertekad menjadikan budaya sebagai wajah utama daerah yang tidak hanya dikenal di Jawa Barat, namun juga diakui luas sebagai pusat peradaban Sunda yang terus hidup dan berkembang.