Wapenja.com/Jombang – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, atmosfer perebutan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 semakin menghangat. Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini kembali menjadi sorotan, bukan hanya karena skala pengaruhnya, tetapi juga karena figur-figur yang masuk dalam bursa kepemimpinan membawa latar belakang dan agenda yang beragam.
Tujuh tokoh NU kini disebut-sebut memiliki modal sosial, jaringan pesantren, serta pengalaman organisasi yang cukup untuk bersaing. Mereka mewakili spektrum luas: dari ulama pesantren dengan garis keturunan pendiri NU, akademisi, pengurus struktural, hingga tokoh yang berpengalaman di pemerintahan dan politik.
Peta Figur yang Muncul
- KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin): Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur. Dengan garis keturunan langsung KH Hasyim Asy’ari, ia menekankan pentingnya NU kembali ke Qanun Asasi sebagai panduan dasar.
- KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin): Putra Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh, kini memimpin PWNU Jawa Tengah. Fokus gagasannya pada penguatan pesantren, kemandirian jam’iyyah, dan peran NU sebagai katalisator ekonomi.
- KH Zulfa Musthafa: Ulama dengan rekam jejak panjang di NU dan MUI, menekankan keseimbangan antara kapasitas keagamaan dan sensitivitas sosial. Ia pernah menjabat Wakil Ketua Umum PBNU dan dikenal dekat dengan tokoh-tokoh nasional.
- KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf): Pengasuh Pesantren API Tegalrejo, Magelang, sekaligus politisi PKB. Ia menawarkan agenda pemulihan marwah organisasi, penguatan tata kelola, serta pemberdayaan ekonomi umat.
- KH Abdussalam Shohib (Gus Salam): Pengasuh Pesantren Denanyar, Jombang, cucu KH Bisri Syansuri. Gagasannya menekankan rekonsiliasi internal NU, dengan silaturahmi sebagai modal utama menghadapi tantangan organisasi.
- KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya): Ketua Umum PBNU periode 2021–2026, dikenal dengan gagasan Islam Nusantara dan diplomasi antaragama di tingkat global. Namanya kembali masuk radar untuk periode berikutnya.
- Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, MA: Pendiri Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, dengan basis kuat di pendidikan dan jaringan pesantren. Ia dikenal sebagai akademisi sekaligus penggerak pendidikan Islam modern.
Mekanisme AHWA: Popularitas Bukan Penentu
Muktamar ke-35 NU akan menggunakan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), menggantikan sistem pemilihan langsung. Dengan mekanisme ini, proses penjaringan nama hingga penentuan Ketua Umum PBNU akan melalui musyawarah para ulama dan tokoh yang dianggap memiliki otoritas. Artinya, popularitas kandidat tidak otomatis menjamin kemenangan. Konsolidasi, dukungan struktural, serta kemampuan merangkul berbagai elemen NU akan menjadi faktor penentu.
Pertarungan Konsolidasi, Bukan Sekadar Figur
Pertarungan kali ini lebih dari sekadar siapa yang paling dikenal. NU menghadapi tantangan besar: menjaga soliditas internal, memperkuat peran pesantren, serta meneguhkan posisi NU di tengah dinamika politik nasional. Dengan basis massa yang besar dan pengaruh strategis dalam kehidupan sosial-politik Indonesia, kepemimpinan PBNU periode 2026–2031 akan menentukan arah organisasi sekaligus posisi NU dalam percaturan nasional.
NU di Persimpangan
Munculnya tujuh nama ini menunjukkan betapa dinamisnya bursa kepemimpinan NU. Namun, pertanyaan mendasar tetap menggantung: apakah NU akan dipimpin oleh figur yang menekankan tradisi pesantren, atau oleh tokoh yang lebih akrab dengan politik dan pemerintahan? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan wajah NU lima tahun ke depan—antara menjaga akar tradisi atau memperluas pengaruh dalam ranah politik nasional.












