Wapenja.com/Bogor — Dugaan keracunan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026). Sebanyak 56 siswa dilaporkan mengalami keluhan muntah-muntah, dengan satu siswa di antaranya juga mengalami diare.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian setelah pihak sekolah menghubungi Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Cisarua Leuwimalang 01 sekitar pukul 08.30 WIB untuk melaporkan adanya sejumlah siswa yang mengalami muntah-muntah.
Menindaklanjuti laporan itu, Kepala SPPG Bogor Cisarua Leuwimalang 01, Fima Aditya Nugraha, mendatangi sekolah sekitar pukul 08.40 WIB. Ia menemui siswa yang mengalami gejala, wali kelas, serta orang tua siswa untuk berkoordinasi mengenai kondisi yang terjadi.
Berdasarkan keterangan awal yang diperoleh dari salah seorang siswa, yang bersangkutan mengaku hanya mengonsumsi susu sebelum mengalami muntah-muntah.
Jumlah siswa yang mengalami keluhan kemudian bertambah. Hingga sekitar pukul 10.00 WIB, laporan awal mencatat sebanyak 20 siswa mengalami gejala serupa. Dalam pendataan lanjutan, jumlah siswa yang dilaporkan terdampak mencapai 56 orang dari sejumlah kelas VII, VIII, dan IX.
Susu Kemasan Jadi Dugaan Awal
Berdasarkan laporan awal dari pihak SPPG, susu kemasan yang dibagikan dalam program MBG menjadi salah satu dugaan sumber masalah. Produk yang disebutkan adalah susu UHT full cream merek Diamond.
Pihak SPPG menduga terdapat kemasan susu yang mengalami kerusakan atau tidak layak konsumsi. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab munculnya keluhan pada para siswa.
Sampel terkait telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) untuk menjalani pemeriksaan. Hasil pengujian laboratorium masih ditunggu guna mengetahui kondisi sampel dan memastikan ada atau tidaknya kaitan dengan kejadian yang dialami para siswa.
Dengan demikian, penyebab pasti dugaan keracunan di SMPN 2 Cisarua hingga saat ini masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.
Pihak Sekolah dan SPPG Lakukan Koordinasi
Setelah menerima laporan kejadian, pihak SPPG Bogor Cisarua Leuwimalang 01 melakukan koordinasi dengan puskesmas untuk penanganan siswa serta pencatatan kejadian tersebut.
Koordinasi juga dilakukan bersama Babinsa, perangkat daerah setempat, dan pihak kecamatan. Sementara itu, siswa yang mengalami keluhan mendapatkan penanganan melalui puskesmas dan rumah sakit.
Pihak SPPG juga dilaporkan mendatangi siswa yang terdampak untuk berkomunikasi dengan mereka dan pihak keluarga.
Berdasarkan kronologi distribusi yang tercantum dalam laporan, paket MBG telah tiba di SMPN 2 Cisarua sekitar pukul 08.03 WIB untuk seluruh kelas, termasuk siswa yang mengikuti kegiatan belajar pada jam masuk pagi.
Waktu kedatangan makanan tersebut menjadi bagian dari rangkaian informasi yang perlu diperiksa lebih lanjut untuk menyusun kronologi secara utuh.
Keamanan Pangan Menjadi Perhatian
Kasus ini kembali menempatkan aspek keamanan pangan sebagai hal penting dalam pelaksanaan program MBG, terutama terkait pemeriksaan kualitas produk, kondisi kemasan, penyimpanan, dan kelayakan makanan maupun minuman sebelum didistribusikan kepada peserta didik.
Meski dugaan awal mengarah pada susu kemasan, penetapan penyebab kejadian tetap harus didasarkan pada hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan pihak terkait.
Hingga laporan ini disusun, hasil pengujian sampel belum tersedia. Belum ada pula kepastian berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut mengenai penyebab seluruh siswa mengalami gejala serupa.
Perkembangan kondisi para siswa, hasil pemeriksaan laboratorium, serta tindak lanjut dari pihak sekolah, SPPG, dan instansi terkait menjadi informasi penting yang perlu ditunggu untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.












