KCD Wilayah VII dan FKSS Bandung Bahas Penguatan Sekolah Swasta Jelang SPMB 2026/2027.

FKSS SMA Kota Bandung Gelar Sharing Session Bahas SPMB 2026/2027 di Aula PGRI Jabar bersama KCD Wil. Vll. (red/ist)

Wapenja.com/BandungForum Komunikasi Sekolah Swasta (FKSS) SMA Kota Bandung menggelar kegiatan sharing session bersama para anggota dan kepala sekolah swasta se-Kota Bandung di Aula PGRI Jawa Barat, Jl. Talaga Bodas No. 58, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Selasa (12/5/2026).

Kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk membahas pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027, sekaligus merumuskan langkah bersama dalam meningkatkan daya saing sekolah swasta di tengah perubahan kebijakan pendidikan yang terus berkembang.

KCD Wil Vll Asep Yudi Mulyadi,S.STP.,M.A.P., saat memberikan sambutan dan apresiasi. (red/ist)

Forum tersebut dihadiri Kepala SMA swasta Kota Bandung,pengurus FKSS, serta unsur Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah VII Jawa Barat.

Suasana diskusi berlangsung dinamis karena peserta saling bertukar pandangan mengenai tantangan penerimaan siswa baru, terutama dampak kebijakan pemerintah terhadap keberlangsungan sekolah swasta.

Ketua FKSS SMA Kota Bandung, Riki Suryadi, S.H., M.Si., mengatakan bahwa kegiatan sharing session ini merupakan agenda penting yang harus dilakukan secara rutin, mengingat setiap tahun kebijakan penerimaan siswa baru selalu mengalami perubahan dan menimbulkan dampak langsung bagi sekolah swasta.

“Kegiatan ini kami laksanakan sebagai wadah diskusi dan evaluasi bersama, karena kebijakan penerimaan peserta didik baru sangat berdampak langsung terhadap keberlangsungan sekolah swasta. Dari tahun ke tahun kebijakan selalu ada perubahan, sehingga sekolah swasta harus siap dan punya strategi,” ujar Riki.

Ketua FKSS SMA Kota Bandung, Riki Suryadi, S.H., M.Si. (red/ist)

Menurut Riki, FKSS berharap pelaksanaan SPMB tahun ajaran 2026/2027 dapat memberikan manfaat lebih besar bagi sekolah swasta dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menyebutkan bahwa pengalaman pada SPMB tahun lalu menjadi pelajaran penting karena adanya program PAPS yang dinilai memberi dampak signifikan terhadap jumlah pendaftar di sekolah swasta.

“Berdasarkan pengalaman SPMB tahun lalu, adanya program PAPS yang digagas gubernur dinilai kurang menguntungkan bagi sekolah swasta. Karena itu, kami mencoba merumuskan bagaimana SPMB 2026/2027 bisa memberikan dampak positif terhadap penerimaan siswa baru di sekolah swasta,” ungkapnya.

Riki menjelaskan, jika program PAPS diterapkan, maka sekolah negeri akan mendapatkan tambahan rombongan belajar (rombel) yang secara otomatis menambah daya tampung siswa. Kondisi tersebut membuat calon peserta didik cenderung memilih sekolah negeri karena kuota yang lebih besar, sehingga peluang sekolah swasta untuk memperoleh siswa baru semakin mengecil.

“Kalau PAPS diterapkan otomatis jumlah rombel di sekolah negeri bertambah, imbasnya peserta didik yang berminat ke sekolah swasta berkurang,” katanya.

Meski demikian, Riki menyebutkan bahwa berdasarkan informasi yang diterima FKSS, program PAPS tidak diterapkan pada tahun ajaran 2026/2027. Informasi tersebut disambut positif oleh sekolah swasta karena dinilai dapat menjaga keseimbangan jumlah peserta didik baru di Kota Bandung.

Suasana Sharing Session FKSS Kota Bandung Bersama Kepala Sekolah Swasta. (red/ist)

Selain itu, Riki juga menyoroti adanya penambahan jumlah sekolah negeri di Kota Bandung yang dinilai akan semakin memperketat persaingan penerimaan peserta didik baru bagi sekolah swasta. Ia menyebutkan, jumlah SMA negeri di Kota Bandung kini bertambah dari sebelumnya 27 sekolah menjadi 29 sekolah.

Menurutnya, kondisi tersebut tentu berdampak pada persaingan SPMB karena daya tampung sekolah negeri akan semakin besar, sehingga sekolah swasta harus bekerja lebih keras untuk menarik minat calon peserta didik.

“Sekarang sekolah negeri di Kota Bandung bertambah. Dari sebelumnya 27 sekolah menjadi 29 sekolah. Ini tentu membuat persaingan SPMB semakin ketat bagi sekolah swasta, karena daya tampung sekolah negeri juga otomatis meningkat,” ujarnya.

Suasana Sharing Session FKSS Kota Bandung Bersama Kepala Sekolah Swasta. (red/ist)

Menurutnya, sekolah swasta membutuhkan kepastian kebijakan agar dapat menyusun perencanaan penerimaan siswa secara lebih matang, mulai dari target pendaftar, strategi promosi, hingga kesiapan fasilitas dan tenaga pendidik.

“Sekolah swasta ini sangat bergantung pada jumlah siswa yang masuk. Kalau kebijakannya berubah mendadak, dampaknya langsung terasa. Karena itu kami berharap kebijakan penerimaan siswa baru bisa lebih konsisten dan memberikan ruang yang adil bagi sekolah swasta,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, FKSS juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara sekolah swasta dan pihak pemerintah, terutama mengenai informasi daya tampung sekolah negeri. FKSS berharap sekolah negeri dapat memberikan informasi penerimaan siswa baru secara akurat dan konsisten, terutama terkait jumlah rombel yang dibuka.

Suasana Sharing Session FKSS Kota Bandung Bersama Kepala Sekolah Swasta. (red/ist)

Menurut Riki, kepastian informasi tersebut sangat penting agar sekolah swasta dapat memetakan target penerimaan siswa baru secara tepat. Jika informasi kuota sekolah negeri berubah-ubah, maka sekolah swasta akan kesulitan melakukan strategi pemasaran maupun perencanaan operasional sekolah.

“Informasi terkait jumlah rombel di sekolah negeri harus jelas. Karena dari situ sekolah swasta bisa memetakan target penerimaan siswa. Kalau informasinya berubah-ubah, sekolah swasta sulit menyesuaikan,” tegasnya.

Selain membahas kebijakan, forum ini juga menjadi ajang berbagi pengalaman dari sekolah-sekolah swasta yang dinilai berhasil menjaga eksistensi dan tetap diminati masyarakat meski berada dalam persaingan ketat dengan sekolah negeri.

FKSS memberikan apresiasi kepada sejumlah sekolah yang disebut mampu mempertahankan jumlah pendaftar.

Suasana Sharing Session FKSS Kota Bandung Bersama Kepala Sekolah Swasta. (red/ist)

Sekolah-sekolah tersebut turut memaparkan strategi yang mereka lakukan dalam membangun kualitas pendidikan, baik dari sisi akademik, non-akademik, pelayanan, maupun pembentukan karakter siswa.

“Mereka menyampaikan bagaimana menarik peserta didik walaupun ada program PAPS. Intinya membuat sekolah berkualitas yang diminati siswa baru,” ungkap Riki.

Dalam diskusi, sejumlah kepala sekolah menyampaikan bahwa salah satu cara agar sekolah swasta tetap diminati adalah dengan memperkuat program unggulan yang berbeda dari sekolah lain. Beberapa sekolah memilih fokus pada penguatan prestasi akademik, pengembangan karakter dan kedisiplinan, program bilingual, pembinaan olahraga dan seni, hingga penguatan kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan minat generasi muda.

Selain itu, ada pula sekolah yang mengembangkan program kerja sama dengan perguruan tinggi maupun dunia usaha sebagai bentuk inovasi pendidikan. Hal tersebut dinilai menjadi nilai tambah yang dapat menarik perhatian orang tua dan calon siswa.

FKSS menilai, sekolah swasta perlu terus berinovasi agar dapat bertahan menghadapi perubahan kebijakan penerimaan siswa baru. Persaingan saat ini tidak hanya soal fasilitas fisik sekolah, tetapi juga bagaimana sekolah mampu membangun kepercayaan masyarakat melalui kualitas layanan pendidikan yang nyata.

Suasana Sharing Session FKSS Kota Bandung Bersama Kepala Sekolah Swasta. (red/ist)

Riki juga menegaskan bahwa setiap sekolah swasta memiliki segmentasi dan karakteristik berbeda. Karena itu, menurutnya sekolah swasta tidak bisa dipaksa mengikuti pola yang sama seperti sekolah lain, melainkan harus memperkuat identitas dan keunggulan yang dimiliki masing-masing.

“Sekolah swasta punya pangsa pasar sendiri, tidak bisa disamakan. Kalau sekolah itu unggul di bidang tertentu jangan dipaksa menjadi seperti sekolah lain, tetapi bagaimana meningkatkan keunggulan yang dimiliki,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi wilayah, kultur masyarakat, serta kebutuhan peserta didik di setiap kecamatan di Kota Bandung berbeda-beda. Hal tersebut membuat strategi pengembangan sekolah swasta harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar.

“Sekolah yang ada di pusat kota tentu berbeda dengan yang ada di pinggiran kota. Kultur masyarakatnya berbeda. Maka strategi penerimaan siswa pun harus disesuaikan. Itu yang dibahas di forum ini,” tambahnya.

Selain membahas strategi promosi dan kualitas sekolah, FKSS juga berdiskusi dengan KCD Pendidikan Wilayah VII Jawa Barat terkait penguatan mutu sekolah swasta. FKSS berharap pemerintah dapat terus memberikan dukungan dalam bentuk pembinaan, peningkatan kompetensi kepala sekolah dan guru, serta memperluas kesempatan sekolah swasta untuk berkembang.

FKSS menilai dukungan pemerintah terhadap sekolah swasta sangat penting karena sekolah swasta merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang turut membantu pemerintah dalam menyediakan akses pendidikan bagi masyarakat.

Sementara itu, Kepala KCD Pendidikan Wilayah VII Jawa Barat, Asep Yudi Mulyadi,S.STP.,M.A.P., mengapresiasi kegiatan sharing session yang digagas FKSS SMA Kota Bandung. Ia menilai forum tersebut menjadi sarana silaturahmi sekaligus ruang diskusi produktif untuk mencari solusi bersama terhadap berbagai isu pendidikan yang berkembang.

“Kami berharap FKSS dapat meningkatkan kompetensi kepala sekolah sehingga berdampak terhadap kualitas satuan pendidikan masing-masing. “Muaranya sekolah swasta SMA di Bandung bisa menjadi sekolah berkualifikasi unggulan,” ujar Asep.

Menurut Asep, FKSS memiliki peran penting sebagai rumah komunikasi dan interaksi antar pengelola sekolah swasta. Ia menilai pertemuan seperti ini perlu dilakukan secara rutin agar sekolah swasta dapat saling menguatkan, berbagi ilmu manajemen sekolah, serta berkompetisi secara sehat dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

“Pertemuan seperti ini harus rutin dilakukan agar anggota bisa saling memajukan melalui pola dan ilmu dalam mengelola sekolah swasta, serta berkompetisi menampilkan kualitas pendidikan terbaik,” katanya.

Asep juga berharap kolaborasi antar sekolah swasta dapat terus diperkuat. Menurutnya, setiap sekolah swasta pasti memiliki keunggulan masing-masing yang dapat dijadikan daya tarik bagi calon peserta didik baru. Dengan adanya forum komunikasi, sekolah-sekolah tersebut dapat saling berbagi pengalaman dan ide inovasi yang bisa diterapkan bersama.

“Setiap keunggulan sekolah swasta bisa dibagikan dan itu dapat menarik peserta didik baru. Salah satunya melalui komunikasi dalam forum seperti ini,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Asep juga mendorong agar sekolah swasta tidak hanya fokus pada kuantitas jumlah siswa baru, tetapi juga kualitas pendidikan yang diberikan.

Menurutnya, sekolah swasta yang mampu membangun sistem pembelajaran berkualitas, lingkungan sekolah yang aman, serta pembinaan karakter yang kuat akan memiliki daya saing yang tinggi di mata masyarakat.

Ia menilai bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya tentang persaingan mendapatkan peserta didik, tetapi juga bagaimana sekolah mampu menyiapkan generasi muda yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi perkembangan zaman.

Melalui kegiatan ini, FKSS berharap sekolah swasta di Kota Bandung semakin solid dan siap menghadapi pelaksanaan SPMB Tahun Ajaran 2026/2027. FKSS juga menegaskan komitmennya untuk terus menjadi wadah komunikasi sekolah swasta, sekaligus menjembatani aspirasi sekolah swasta kepada pemerintah agar kebijakan penerimaan siswa baru dapat berjalan lebih adil dan berimbang.

Selain itu, forum ini juga diharapkan mampu memperkuat semangat kolaborasi antar sekolah swasta, sehingga persaingan yang ada tidak justru melemahkan, melainkan mendorong sekolah swasta untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan.

Sharing session ini, FKSS optimistis sekolah swasta dapat tetap eksis dan berkembang sebagai pilihan pendidikan berkualitas bagi masyarakat Kota Bandung. FKSS juga berharap kebijakan SPMB 2026/2027 dapat menjadi momentum untuk menciptakan sistem penerimaan murid baru yang lebih tertata, transparan, dan memberikan kesempatan yang seimbang bagi sekolah negeri maupun sekolah swasta.