Wapenja.com/Bekasi – Sungguh pemandangan yang memilukan sekaligus memalukan terjadi di Kampung Dukuh, Desa Ciledug, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi. Di tengah peradaban modern, warga di sini terpaksa melakukan ritual terakhir yang penuh risiko: menggotong jenazah melewati pematang sawah yang sempit dan licin.
Akses jalan yang belum memadai memaksa warga untuk bergotong royong memikul jenazah melewati pematang sawah yang sempit, sebuah gambaran perjuangan yang menyentuh hati. (23/04/2026).
Jalur yang hanya selebar 25 sentimeter ini menjadi satu-satunya akses yang bisa dilalui, baik untuk aktivitas sehari-hari maupun untuk momen paling sakral sekalipun. Kondisinya yang licin saat hujan menambah tingkat kesulitan dan risiko, terutama saat prosesi pemakaman. Situasi ini tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga menimbulkan keprihatinan mendalam akan martabat dan keselamatan mereka.
Menghadapi kondisi ini, warga Kampung Dukuh tak henti-hentinya menyuarakan harapan. Mereka mendambakan perhatian serius dari pemerintah Kabupaten Bekasi untuk segera merealisasikan pembangunan akses jalan yang layak dan aman. Perbaikan infrastruktur ini diharapkan tidak hanya mempermudah aktivitas warga, tetapi juga memastikan setiap prosesi kehidupan, termasuk yang terakhir, dapat berjalan dengan penuh hormat dan tanpa rasa khawatir akan keselamatan.
Warga Kampung Dukuh telah bersabar, namun kesabaran itu ada batasnya. Mereka berhak mendapatkan jalan yang layak, bukan sekadar janji. Pertanyaannya, sampai kapan pemerintah Kabupaten Bekasi akan menutup mata terhadap penderitaan yang nyata ini?












