FTBI Leuwigoong 2026: Bahasa Ibu Jadi Panggung Kreativitas Pelajar Garut

Wapenja.com/Garut – Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, menjadi pusat semarak perayaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI). Dengan tema “Melestarikan Bahasa Ibu, Membangun Generasi Berbudi dan Berbudaya”, ajang ini menghadirkan ratusan pelajar yang menampilkan bakat sekaligus komitmen menjaga warisan budaya daerah, Rabu (2/9/2026).

Sebanyak 334 siswa dari berbagai satuan pendidikan tampil penuh semangat dalam tujuh cabang lomba, mulai dari Mamaos Pupuh, Maca Sajak, Biantara, Ngabodor Sorangan, Ngadongeng, Maca Nulis Aksara Sunda, hingga Nulis Carpon. Setiap cabang menjadi ruang ekspresi yang memperlihatkan betapa bahasa ibu masih hidup dan relevan di tengah arus modernisasi.

Ketua Panitia, Herni Hernayati, S.Pd, menegaskan bahwa bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pondasi jati diri bangsa. “Melalui FTBI, kami ingin generasi muda tidak hanya fasih berbahasa, tetapi juga menyerap nilai luhur dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Suasana festival terasa meriah. Dukungan guru, orang tua, dan masyarakat sekitar menambah energi positif bagi para peserta. Penampilan mereka bukan hanya kompetisi, melainkan pernyataan bahwa bahasa daerah adalah identitas yang harus terus dijaga.

Di panggung lomba Mamaos Pupuh, suara merdu para pelajar mengalun membawa nuansa klasik Sunda yang sarat makna. Sementara itu, cabang Ngadongeng menghadirkan kisah-kisah rakyat yang mengajarkan nilai moral dan kebijaksanaan, seolah mengingatkan generasi muda bahwa tradisi lisan adalah bagian penting dari sejarah bangsa. Cabang Maca Nulis Aksara Sunda menjadi sorotan tersendiri, karena di tengah dominasi huruf latin, para siswa menunjukkan bahwa aksara Sunda tetap bisa hidup dan dipelajari dengan penuh kebanggaan.

Seorang wali murid mengungkapkan harapannya agar kegiatan serupa digelar rutin. “Bahasa ibu jangan sampai punah. Lewat festival ini, anak-anak belajar mencintai budaya sendiri,” tuturnya. Harapan ini mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman globalisasi yang kerap mengikis bahasa daerah.

FTBI Leuwigoong 2026 pun diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain. Lebih dari sekadar lomba, ia hadir sebagai gerakan kolektif untuk memperkuat akar budaya bangsa, membangun generasi yang cerdas sekaligus berkarakter. Festival ini juga menjadi refleksi bahwa pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga tentang bagaimana sekolah mampu menjadi ruang pelestarian budaya.

Dengan semangat itu, FTBI bukan hanya panggung kreativitas, melainkan juga simbol perlawanan terhadap homogenisasi budaya. Ia menegaskan bahwa bahasa ibu adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi dan modernitas.