MPLS SMK ICB Cinta Wisata Tanamkan Karakter dan Budaya Hospitality kepada 183 Siswa Baru

Wapenja.com/BandungSMK ICB Cinta Wisata Bandung yang beralamat di Jl. Pahlawan No. 19B, Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung, menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi 183 peserta didik baru Tahun Ajaran 2026/2027 selama lima hari. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga difokuskan pada pembentukan karakter, penguatan budaya hospitality, pengembangan potensi diri, serta penanaman nilai-nilai Pancawaluya sebagai bekal siswa memasuki dunia pendidikan vokasi dan dunia kerja.

Kepala SMK ICB Cinta Wisata, Iwan Ridwan,S.Pd, mengatakan bahwa tujuan utama MPLS adalah membangun karakter peserta didik sejak hari pertama mereka bersekolah.

“Selain mengenalkan lingkungan sekolah, yang paling penting adalah menciptakan karakter yang kuat agar siswa mampu menggapai cita-citanya. Karena itu, kami sebagai pendidik menyusun program yang bermuara pada membangun semangat peserta didik untuk menuntut ilmu di sekolah kami,” ujar Iwan, Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, tema MPLS tahun ini adalah SAHARA, yang menitikberatkan pada pembangunan sinergi dan kolaborasi berbasis hospitality. Tema tersebut selaras dengan karakter SMK ICB Cinta Wisata sebagai sekolah vokasi yang berfokus pada bidang pariwisata.

“Kami ingin siswa memahami prinsip-prinsip hospitality sejak awal. Penguatan nilai-nilai tersebut menjadi perhatian utama agar lulusan tidak mengalami culture shock ketika memasuki dunia industri dan siap menghadapi berbagai tantangannya,” katanya.

Iwan mengungkapkan, pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027, SMK ICB Cinta Wisata menerima 183 siswa baru, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurutnya, peningkatan jumlah pendaftar menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas layanan pendidikan yang diberikan sekolah.

Kepercayaan tersebut juga didukung oleh komitmen sekolah dalam membangun kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri. Hingga saat ini, SMK ICB Cinta Wisata telah bekerja sama dengan 55 perusahaan dan industri sebagai mitra praktik kerja lapangan maupun penyaluran lulusan.

“Peningkatan jumlah siswa yang mendaftar merupakan bukti bahwa kami memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik kepada masyarakat. Hal itu menjadi keyakinan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di SMK ICB Cinta Wisata,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana MPLS, Priska Amelia,S.Pd, menjelaskan seluruh materi MPLS disusun berdasarkan petunjuk teknis Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat melalui program MPLS Pancawaluya, kemudian dipadukan dengan konsep Sekolah Ramah sehingga kegiatan berlangsung edukatif, menyenangkan, aman, dan bebas dari praktik perpeloncoan.

“Kegiatan MPLS berlangsung selama lima hari dengan berbagai materi, di antaranya penerapan budaya 5S, yaitu senyum, sapa, salam, sopan, dan santun, serta 3G, yakni grooming, greeting, dan gesture. Selain itu, siswa juga mendapatkan materi Wawasan Wiyata Mandala mengenai visi dan misi sekolah,” jelas Priska.

Selama lima hari pelaksanaan, peserta didik mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk membentuk karakter sekaligus membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Hari pertama diisi dengan pengenalan guru dan tenaga kependidikan, visi dan misi sekolah, budaya sekolah, Wawasan Wiyata Mandala, budaya 5S dan 3G, nilai-nilai Pancawaluya, pengenalan OSIS, hingga school tour untuk mengenal seluruh fasilitas belajar dan praktik yang dimiliki sekolah.

Hari kedua diawali dengan Pertemuan Pagi Ceria, dilanjutkan eksplorasi potensi diri melalui analisis SWOT, pengenalan kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler, materi Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta pembelajaran Sahabat Hebat: Dengar, Peduli, dan Hargai yang menitikberatkan pada kesehatan mental, empati, dan kepedulian antarsesama.

Pada hari ketiga, peserta didik menjalani asesmen awal kondisi sosial-emosional, literasi dan numerasi, pengenalan Delapan Dimensi Profil Lulusan, tata tertib sekolah, serta pembelajaran mengenai literasi digital agar siswa mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

Hari keempat diisi dengan penyuluhan dari berbagai narasumber eksternal. Kepolisian memberikan edukasi mengenai bahaya judi online dan pinjaman online, psikolog menyampaikan dampak negatif kecanduan gim daring terhadap kesehatan mental, sedangkan Badan Narkotika Nasional (BNN) memberikan penyuluhan mengenai bahaya penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA). Pada hari yang sama, peserta didik juga menampilkan berbagai kreativitas melalui kegiatan Unjuk Karya.

Rangkaian MPLS ditutup pada hari kelima dengan Expo Ekstrakurikuler, di mana seluruh organisasi dan ekstrakurikuler memperkenalkan kegiatannya kepada peserta didik baru.

Berbagai pilihan kegiatan seperti Pramuka, Paskibra, PMR, Rohis, Tari Tradisional, Japanese Club, English Club, Fotografi, Jurnalistik, Theater, Boxing Club, Hapkido, Basket, Futsal, SISPALA, MPK, hingga OSIS ditampilkan sebagai wadah pengembangan minat, bakat, dan kepemimpinan siswa.

Selain menghadirkan tenaga pendidik internal, sekolah juga mengundang narasumber dari BNN, Kepolisian, dan psikolog untuk memberikan wawasan yang relevan dengan tantangan yang dihadapi remaja saat ini.

“Kami menghadirkan pemateri dari Badan Narkotika Nasional (BNN), Kepolisian, Psikolog, serta tenaga pendidik internal sekolah. Fokus kami adalah membantu siswa mengeksplorasi potensi dirinya sekaligus membangun karakter positif sejak dini,” kata Priska.

Ia menegaskan bahwa seluruh guru dan pengurus OSIS terlibat aktif dalam pelaksanaan MPLS sehingga kegiatan berlangsung kondusif dan bebas dari perpeloncoan.

“Kami bersinergi menciptakan MPLS tanpa perpeloncoan. Yang kami bangun adalah kebersamaan, kedisiplinan, serta lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa baru,” ujarnya.

Sebagai bagian dari implementasi pendidikan karakter, seluruh peserta didik baru menjalani asesmen identifikasi awal kondisi psikologis oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK). Program tersebut menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan dan perundungan (bullying), sejalan dengan implementasi nilai-nilai karakter Pancawaluya.

Bahkan sebelum mengikuti MPLS, seluruh calon peserta didik telah menjalani tes minat dan bakat untuk memetakan kompetensi mereka sehingga penempatan pada program keahlian dapat dilakukan secara lebih tepat.

Foto bersama Wakasek kurikulum, ketua Panitia dan siswa baru. (red/ist)

Pada Tahun Ajaran 2026/2027, SMK ICB Cinta Wisata membuka empat program keahlian, yakni Kuliner (2 kelas), Perhotelan (2 kelas), Usaha Layanan Wisata (ULW) (1 kelas), dan Desain Komunikasi Visual (DKV) (1 kelas).

Salah seorang peserta MPLS, M. Jordan Tamir, mengaku memilih Program Keahlian Kuliner karena memiliki cita-cita menjadi seorang chef. Ia menilai sekolah memiliki fasilitas praktik yang lengkap serta lingkungan belajar yang nyaman.

“Saya memilih jurusan kuliner karena hobi memasak dan membuat kue, orang tua juga mendukung. Saya melihat fasilitas praktik di sini lengkap, guru-guru dan kakak kelasnya ramah. Saya bertekad belajar sungguh-sungguh agar bisa mencapai cita-cita menjadi seorang chef,” tuturnya.

Melalui rangkaian MPLS yang memadukan pendidikan karakter, budaya hospitality, penguatan nilai-nilai Pancawaluya, literasi digital, kesehatan mental, serta pengembangan minat dan bakat, SMK ICB Cinta Wisata berharap seluruh peserta didik baru mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah, tumbuh menjadi lulusan yang berkarakter, kompeten, dan siap bersaing di dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.