Wapenja.com/Bandung – Suasana penuh semangat dan haru mewarnai pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) perdana di SMAN 28 Bandung, pada hari Rabu tanggal 15 Juli 2026,yang digelar di gedung Graha Laga Satria Sport Jabar, Jl Pacuan Kuda No 140 Bandung Kota. Sebagai sekolah negeri baru yang didirikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, momen ini menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya SMAN 28 Bandung menyambut peserta didik baru yang akan menjadi angkatan pertama sekolah tersebut.
Pelaksanaan MPLS secara resmi dibuka oleh Camat Arcamanik, Willi Yudia Laksana, S.STP. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa sekolah pada masa kini tidak lagi hanya berfungsi melahirkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter generasi muda.

“Sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat melahirkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai manusia dan generasi penerus bangsa,” ujar Willi.
Ia berharap para peserta didik angkatan pertama SMAN 28 Bandung mampu memanfaatkan kegiatan MPLS sebagai awal untuk mengenal lingkungan sekolah, membangun karakter, memperkuat kedisiplinan, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang berprestasi dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala SMAN 28 Bandung, Ai Sumiati, S.S., M.Pd., mengaku sangat terharu dan bangga dapat menyelenggarakan MPLS perdana setelah melalui perjuangan panjang sejak sekolah ini mulai dibentuk.
“Alhamdulillah, saya sangat haru, bangga, dan tentunya bahagia. Perjuangan kami dimulai dari nol dengan tim yang hanya berjumlah enam orang. Mulai dari proses PCMB, SPMB Tahap 1 hingga SPMB Tahap 2, akhirnya kami dapat menyambut sebanyak 252 peserta didik dalam MPLS perdana SMAN 28 Bandung,” ungkapnya.
Menurut Ai Sumiati, menjadi angkatan pertama merupakan sebuah kebanggaan sekaligus amanah besar karena mereka akan menjadi pelopor yang membangun budaya dan sejarah sekolah.
“Menjadi angkatan pertama adalah sesuatu yang sangat istimewa. MPLS perdana ini bukan hanya kegiatan pengenalan sekolah, tetapi menjadi peletakan batu pertama sejarah SMAN 28 Bandung. Rasanya campur aduk antara semangat, tanggung jawab besar, dan doa agar seluruh peserta didik mampu mengharumkan nama sekolah sejak awal,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa MPLS tahun ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu memperkenalkan jati diri SMAN 28 Bandung yang memiliki visi menjadi sekolah berkarakter, religius, berakhlak mulia, cerdas, berwawasan ekologi, dan berdaya saing global; menumbuhkan rasa bangga sebagai siswa angkatan pertama; serta membentuk karakter melalui implementasi nilai-nilai PANCAWALUYA.
Menurutnya, nilai PANCAWALUYA yang meliputi Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer bukan hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari sesuai arahan Gubernur Jawa Barat.
Selain itu, SMAN 28 Bandung juga mengembangkan budaya sekolah MURAH HATE, yaitu Mulia, Ulet, Religius, Adil, Harmonis, Hormat, Amanah, Tanggung Jawab, dan Empati sebagai karakter yang harus dimiliki seluruh warga sekolah.

Meski kegiatan belajar mengajar masih berlangsung di lokasi sementara di kawasan Dispora Sport Jawa Barat, Ai Sumiati menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak mengurangi semangat seluruh warga sekolah dalam memberikan pelayanan pendidikan terbaik.
Meski kegiatan belajar mengajar masih berlangsung di gedung Graha Laga Satria Sport Jabar, Ai Sumiati menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak mengurangi semangat seluruh warga sekolah dalam memberikan pelayanan pendidikan terbaik.
“Kami memastikan lingkungan belajar tetap bersih, aman, nyaman, dan kondusif. Guru-guru hadir dengan sepenuh hati. Kami juga menanamkan kepada siswa bahwa mereka adalah angkatan pertama atau para perintis. Dari tempat sementara inilah sejarah besar SMAN 28 Bandung dimulai,” katanya.

Selama MPLS, peserta didik mendapatkan berbagai materi yang berfokus pada pembentukan karakter, mulai dari pengenalan visi dan misi sekolah, makna logo SMAN 28 Bandung, budaya sekolah berwawasan lingkungan, literasi Al-Qur’an, pembinaan karakter, pengenalan ekstrakurikuler, Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, hingga kegiatan membangun kekompakan antarsiswa.
Sekolah juga membiasakan penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, seperti datang tepat waktu, beribadah, berolahraga melalui senam pagi, mengonsumsi makanan bergizi, gemar belajar dan berliterasi, serta peduli terhadap masyarakat melalui kegiatan sosial.
Dalam pelaksanaannya, SMAN 28 Bandung menerapkan konsep MPLS Ramah sesuai kebijakan pemerintah, yaitu tanpa kekerasan, tanpa perpeloncoan, tanpa atribut berlebihan, dan tanpa tugas yang merendahkan peserta didik.

“Kami ingin MPLS menjadi pengalaman yang menyenangkan. Seluruh kegiatan dirancang edukatif, kolaboratif, dan diawasi langsung oleh guru. Sekolah harus menjadi tempat yang mampu memenuhi kebutuhan spiritual, memberikan perlindungan fisik, menjaga kesehatan mental, serta menciptakan rasa aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik,” tegas Ai Sumiati.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat atas dukungan pembinaan, pendampingan, serta penyediaan sarana dan prasarana bagi sekolah baru tersebut. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Dispora Jawa Barat yang telah memfasilitasi lokasi sementara sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
Menurutnya, lokasi di kawasan Dispora Sport justru menjadi keunggulan karena peserta didik dapat memanfaatkan lapangan untuk upacara, senam pagi, olahraga, hingga berbagai kegiatan pembentukan karakter seperti MPLS Sport and Character, Green Dispora, aksi peduli lingkungan, dan pentas kreativitas.

Menurutnya, lokasi di gedung Graha Laga Satria Sport Jabar justru menjadi keunggulan karena peserta didik dapat memanfaatkan lapangan untuk upacara, senam pagi, olahraga, hingga berbagai kegiatan pembentukan karakter seperti MPLS Sport and Character, Green Dispora, aksi peduli lingkungan, dan pentas kreativitas.
“Yang paling penting kami tanamkan adalah bahwa sekolah bukan hanya tentang gedungnya, tetapi tentang orang-orang yang membangun karakter di dalamnya. Kebanggaan SMAN 28 Bandung bukan dari temboknya, tetapi dari nilai-nilai PANCAWALUYA yang dibangun bersama,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Ai Sumiati berharap seluruh peserta didik angkatan pertama mampu menjadi Angkatan Emas SMAN 28 Bandung yang tidak hanya berprestasi secara akademik dan nonakademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia serta mampu bersaing di tingkat global.
“Hatur nuhun kepada seluruh orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada SMAN 28 Bandung. Kepercayaan ini adalah amanah besar bagi kami. Mari kita bersinergi mencetak generasi yang Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer, berkarakter unggul serta berdaya saing global. Insyaallah, dari awal yang sederhana ini akan lahir karya-karya besar dan sejarah yang membanggakan bagi SMAN 28 Bandung,” pungkasnya.












