Wapenja.com/Bandung – Pembangunan halte Bus Rapid Transit (BRT) yang berada di tengah ruas jalan kawasan Cicadas dan sejumlah koridor utama Kota Bandung mulai dikeluhkan masyarakat. Aktivitas konstruksi dinilai berdampak terhadap kelancaran arus lalu lintas, terutama pada jam-jam sibuk.
Menanggapi kondisi tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan Pemerintah Kota Bandung terus melakukan pengawasan agar dampak pembangunan terhadap aktivitas warga tidak berlangsung terlalu lama.
Farhan mengakui potensi kemacetan sebenarnya sudah diperkirakan sejak awal pengerjaan. Meski demikian, ia menegaskan gangguan tersebut hanya bersifat sementara karena pembangunan halte ditargetkan dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat.
“Potensi kemacetan memang sudah kita perkirakan. Tetapi ini proses sementara dan ditargetkan selesai sekitar dua minggu,” ujar Farhan, Senin (14/9/2026).
Untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan, Farhan meminta Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung menempatkan petugas di sejumlah titik yang dinilai rawan kemacetan. Pengaturan lalu lintas diminta dilakukan sejak pagi hingga malam hari selama proses pembangunan berlangsung.
Tak hanya soal rekayasa lalu lintas, Farhan juga meminta pihak pengelola proyek BRT meningkatkan komunikasi dengan masyarakat. Sosialisasi dinilai penting agar warga, pedagang, maupun juru parkir memahami tahapan dan dampak teknis pekerjaan di lapangan.
“Saya meminta kepada BRT melakukan sosialisasi lebih masif ke seluruh warga. Karena yang tahu teknis pengerjaan semuanya BRT, kalau saya kan mewakili warga,” kata Farhan.
Pemkot Bandung berharap pembangunan infrastruktur BRT dapat segera rampung sehingga gangguan lalu lintas yang dirasakan masyarakat tidak berlarut-larut.












