Ratusan Warga Geruduk Mapolsek Megamendung, Persoalan Bang Emok Picu Ketegangan

Wapenja.com/Bogor  – Suasana di sekitar Mapolsek Megamendung, Kabupaten Bogor, sempat memanas pada Sabtu (12/9/2026) siang. Sekitar 400 warga dari sejumlah desa di Kecamatan Megamendung mendatangi kantor kepolisian tersebut untuk menyampaikan keberatan atas laporan yang dibuat seorang penagih utang keliling yang dikenal warga dengan panggilan Bang Emok.

Kedatangan massa dipicu persoalan utang piutang yang sebelumnya melibatkan Bang Emok dengan salah seorang warga Desa Sukamaju. Perselisihan di antara keduanya berkembang menjadi pertengkaran hingga terjadi aksi saling pukul.

Bang Emok kemudian membawa persoalan tersebut ke jalur hukum dengan melaporkan warga yang disebut telah melakukan pemukulan terhadap dirinya.

Namun, laporan tersebut justru memunculkan reaksi keras dari masyarakat. Informasi mengenai kasus itu menyebar luas dan membuat sejumlah warga berdatangan ke Mapolsek Megamendung.

Warga mengaku memiliki keresahan tersendiri terhadap aktivitas pinjaman yang dilakukan Bang Emok, khususnya terkait bunga utang yang dinilai tinggi. Karena itu, mereka meminta polisi mempertimbangkan kembali laporan yang telah dibuat.

Ketegangan meningkat ketika sebagian massa mendesak agar laporan tersebut dihentikan. Teriakan warga terdengar dari tengah kerumunan, bahkan situasi sempat tidak terkendali setelah sejumlah warga berupaya memasuki halaman Mapolsek.

Di tengah situasi tersebut, Camat Megamendung Ridwan bersama Anggota DPRD Kabupaten Bogor Ismail datang menemui warga. Keduanya berupaya meredakan emosi massa sekaligus mencari jalan keluar atas persoalan yang terjadi.

Ridwan menyampaikan bahwa persoalan yang berkembang di tengah masyarakat tidak semata-mata berkaitan dengan besaran utang. Menurutnya, keresahan warga sudah menyangkut persoalan kenyamanan dan ketenteraman lingkungan.

Dalam kesempatan itu, Ridwan juga menyampaikan kepada massa bahwa pihak kepolisian telah menyanggupi permintaan untuk mencabut laporan yang dibuat Bang Emok.

Pernyataan tersebut kemudian mendapat respons positif dari warga. Setelah mendengar adanya kesepakatan tersebut, massa perlahan mulai tenang dan akhirnya meninggalkan Mapolsek Megamendung secara tertib.

Peristiwa ini kembali membuka persoalan mengenai praktik pinjaman uang informal di tengah masyarakat. Perselisihan yang awalnya bersifat pribadi bahkan sempat berkembang menjadi ketegangan yang melibatkan ratusan warga.

Kondisi tersebut menjadi perhatian agar persoalan serupa tidak kembali berujung pada konflik terbuka. Pemerintah daerah bersama aparat terkait dinilai perlu mencari langkah penyelesaian yang dapat memberikan kepastian hukum sekaligus mencegah keresahan masyarakat meluas.