Tim MASDA Jabar Silaturahmi ke Kampung Adat Dukuh Garut, Sesepuh Adat Sampaikan Harapan Perbaikan dan Reboisasi

Tim Majelis Adat Sunda Jawa Barat (MASDA Jabar) yang dipimpin oleh Ketua Umum Abah H. Anton Charlyan bersama rombongan saat bertemu sesepuh adat Mama Uluk. (red/ist)

Wapenja.com/Garut – Tim Majelis Adat Sunda Jawa Barat (MASDA Jabar) yang dipimpin oleh Ketua Umum Abah H Anton Charlyan bersama rombongan yang terdiri dari Ir Deden Hidayat, Abah Iwan, Ambu Ida, Bu Maria, Dindin Mauludin, dan M Rifai N melakukan kunjungan silaturahmi ke Kampung Adat Dukuh, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut. Kehadiran mereka disambut hangat oleh sesepuh adat Mama Uluk, Uwa Buloh Ibrahim, Kang Yayan selaku Ketua RT, serta warga kampung adat setempat, menandai sebuah pertemuan penuh makna antara tokoh adat dan perwakilan masyarakat Sunda.

Masyarakat Kampung Adat Dukuh, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, menyambut hangat kehadiran Tim MASDA Jabar.(red/ist)

Kampung Adat Dukuh memiliki luas sekitar 13 hektare, dengan 12 hektare ditetapkan sebagai hutan larangan yang dijaga ketat, dan 1 hektare digunakan sebagai pemukiman. Di kampung dalam terdapat sekitar 40 kepala keluarga, sementara kampung luar dihuni oleh 79 kepala keluarga. Terletak di ketinggian 600 mdpl, kampung ini berjarak sekitar 100 km atau dua jam perjalanan dari Garut, dan sekitar 4,5 jam dari Bandung. Keberadaan hutan larangan menjadi simbol komitmen masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan alam, meski akses menuju kampung masih sulit karena kondisi jalan sepanjang 9 km dari jalur lintas selatan Rancabuaya yang rusak parah.

Di area kampung dalam, terdapat makam petilasan Syeh Abdul Jalil, pendiri Kampung Adat Dukuh. Sosok ini pernah menjabat sebagai Penghulu Sumedang Larang pada masa Pangeran Rangga Gempol atau Rd Aria Suradiwangsa (1601–1624). Kehadiran makam tersebut menjadi pusat spiritual dan sejarah yang dijaga dengan ketat melalui berbagai aturan pamali. Tradisi larangan masih dijalankan hingga kini, seperti pegawai pemerintah tidak diperkenankan berkunjung ke makam, larangan mengenakan batik atau pakaian bermotif bunga, tidak boleh makan sambil berdiri, tidak boleh selonjor kaki ke arah makam, serta larangan menabuh gamelan dan wayang. Rumah adat di kampung dalam pun harus dibangun dari bahan alam, dengan atap ijuk, dinding bilik, dan lantai kayu palupuh, tanpa semen maupun genteng.

Ketua Umum MASDA Jabar, Abah H. Anton Charlyan bersama tokoh adat Kampung Adat Dukuh. (red/ist)

Tradisi adat yang masih hidup di Kampung Dukuh meliputi Upacara 14 Maulid, Cebor 40, Ngahaturanan Tuang, ziarah makam, serta tradisi memasuki hutan larangan. Selain itu, kesenian lokal seperti Terbang Sejak, Gembrung, Tarawangsa, silat, dan debus masih dilestarikan. Kehidupan religius masyarakat Muslim di kampung ini sangat disiplin, ditandai dengan kentongan kohkol setiap subuh untuk membangunkan warga agar melaksanakan shalat berjamaah. Madrasah dan mushola menjadi pusat pendidikan agama, sementara anak-anak juga mengikuti pendidikan umum di luar kampung.

Meski kaya akan tradisi dan kearifan lokal, kondisi pemukiman adat dalam saat ini cukup memprihatinkan. Sekitar 60–80 persen rumah adat mengalami kerusakan, bilik berlubang, tiang kayu lapuk, dan atap ijuk bocor. Masjid dan madrasah pun tidak luput dari kerusakan. Sampah yang berserakan di kampung luar menambah kesan kumuh, sementara keterbatasan ekonomi warga membuat perawatan bangunan adat semakin sulit. Harga ijuk dan kirai yang mahal juga menjadi kendala besar bagi masyarakat dalam memperbaiki rumah mereka.

Suasana keakraban Ketua Umum MASDA Jabar dengan anak-anak Kampung Adat Dukuh. (red/ist)

Dalam pertemuan tersebut, sesepuh adat Mama Uluk menyampaikan sejumlah harapan kepada Tim MASDA Jabar. Harapan itu mencakup renovasi menyeluruh bangunan adat, perbaikan jalan akses menuju kampung, subsidi minyak tanah yang menjadi kebutuhan utama warga dengan konsumsi bulanan mencapai 800–900 liter, serta penyediaan tanah ulayat untuk garapan bersama. Selain itu, warga berharap adanya penataan lahan parkir, pembangunan gerbang etnik yang representatif, penambahan alat kesenian tradisional beserta kostumnya, serta program penanaman tanaman produktif dan obat keluarga seperti buah naga hitam, kopi, nanas madu, gaharu, hingga tanaman keras seperti kawung dan albasiah. Hewan ternak yang sesuai dengan kondisi lokal seperti domba Garut, ayam kampung, dan kerbau juga diharapkan dapat membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Permintaan khusus juga disampaikan terkait perlunya reboisasi akbar di kawasan Gunung Papandayan. Gunung ini merupakan hulu sumber air bagi tiga sungai besar di Jawa Barat: Citarum, Cimanuk, dan Ciwulan. Sesepuh adat mengingatkan bahwa kayu-kayu keras di kawasan tersebut sudah banyak ditebang, sementara lahan berubah fungsi menjadi perkebunan dan perumahan. Jika tidak segera diantisipasi, dikhawatirkan akan terjadi krisis air, longsor, dan banjir yang mengancam kehidupan masyarakat luas.

Kunjungan Tim MASDA Jabar ke Kampung Adat Dukuh bukan hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap keberlangsungan kampung adat sebagai warisan budaya Sunda. Dukuh bukan sekadar pemukiman tradisional, melainkan benteng kearifan lokal yang menjaga harmoni antara manusia, adat, dan alam. Harapan besar kini tertuju pada langkah nyata yang dapat membantu masyarakat adat Dukuh mempertahankan tradisi sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka di tengah tantangan zaman.