Wapenja.com/Bandung – Kawasan pusat Kota Bandung bersiap mengalami perubahan besar. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), turun langsung meninjau proyek penataan dan penyatuan halaman Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu. Dalam kunjungan lapangan itu, KDM terlihat aktif berdiskusi dengan tim proyek, memastikan setiap detail pembangunan sesuai dengan visi estetika kota sekaligus kebutuhan fungsional masyarakat.
Proyek bernilai Rp15,8 miliar ini digadang-gadang menjadi wajah baru ruang publik Bandung. Dengan penyatuan dua ikon kota, masyarakat akan memiliki area terbuka yang lebih luas untuk berolahraga, berkegiatan sosial, hingga menyampaikan aspirasi. “Kita ingin ruang publik yang lebih representatif, tanpa menimbulkan kemacetan,” tegas KDM, Rabu (15/7).
Salah satu sorotan publik adalah nasib Jalan Diponegoro yang berada tepat di depan Gedung Sate. KDM memastikan jalan tersebut tidak akan dihapus, melainkan diubah menjadi sistem lalu lintas melingkar. Konsep ini diyakini mampu mengurai kepadatan kendaraan yang selama ini menjadi masalah klasik di kawasan tersebut.
Menurut jadwal resmi Pemprov Jabar, proyek penataan kawasan terintegrasi ini ditargetkan rampung pada awal September 2026. Selama proses konstruksi, jalur di depan Gedung Sate akan ditutup hingga 7 September 2026, sehingga masyarakat diimbau menyesuaikan rute perjalanan mereka.
Lebih dari sekadar pembangunan fisik, proyek ini membawa makna simbolis: Gedung Sate sebagai pusat pemerintahan Jawa Barat kini menyatu dengan Gasibu yang selama ini menjadi ruang aspirasi rakyat. Integrasi ini diharapkan melahirkan landmark modern yang tetap menjaga nilai sejarah, memperkuat identitas Bandung sebagai kota budaya, sekaligus menghadirkan ruang publik yang lebih inklusif bagi warga Jawa Barat.












