Wapenja.com/Bogor – Suasana Lapangan Sempur Kota Bogor terasa semarak dan penuh semangat pada Minggu (14/6). Sebagai salah satu rangkaian utama peringatan Hari Jadi Kota Bogor ke-544 yang mengusung tema “Bogor Nanjeur”, digelar Gebyar Pesilat Kota Bogor. Kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan wujud nyata upaya melestarikan warisan budaya, membentuk karakter generasi penerus, serta mempererat tali persaudaraan di antara berbagai perguruan pencak silat se-Kota Bogor.
Ribuan pasang mata tertuju pada lapangan saat lebih dari seribu pesilat yang mewakili 25 perguruan silat berkumpul dalam satu barisan. Penampilan yang paling memukau adalah demonstrasi jurus secara serentak bertajuk Flash Mop, diikuti dengan penampilan khas daerah bernama Seni Kabogoran. Ibing Penca ini merupakan hasil karya para tokoh silat setempat yang menggabungkan gerakan tradisional dengan nilai-nilai kearifan lokal, membuktikan bahwa pencak silat adalah seni budaya Sunda yang hidup dan terus berkembang.
Ketua Umum IPSI Kota Bogor, Subono, menyampaikan bahwa ajang ini menjadi sarana penting untuk mengarahkan generasi muda ke arah yang positif. “Kami ingin mencetak generasi pesilat yang bebas dari tawuran dan narkoba. Melalui silat, mereka belajar disiplin, menjaga kesehatan, dan mencintai warisan leluhur,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa pencak silat telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda, bahkan kini sedang diupayakan agar dapat dipertandingkan dalam ajang Olimpiade sesuai semangat pembangunan olahraga nasional.
Dalam kesempatan itu, Subono juga menyampaikan harapan dan permohonan dukungan masyarakat. “Kami mohon doa restu, karena Kota Bogor akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat pada November 2026 mendatang. Semoga acara itu berjalan lancar dan sukses,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua PPSI Kota Bogor, Hizriandra Putra atau akrab disapa Kang Putra, memperkenalkan semangat baru organisasinya melalui slogan “Digdaya, Budi Bhakti Sakti”. Ia juga mengumumkan rencana peluncuran maskot resmi pesilat Kota Bogor bernama “Si Maung Raja”, yang diharapkan dapat lebih mendekatkan tradisi silat kepada generasi milenial dan Z. Tidak hanya berhenti pada pelestarian budaya, PPSI juga menargetkan transformasi silat tradisi menjadi bagian dari industri kreatif yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi para penggiatnya.
Ketua Panitia Pelaksana, S. Dwihardanto Joko P., menegaskan bahwa Gebyar Pesilat ini adalah bentuk kontribusi nyata komunitas silat dalam membangun kota. “Kami ingin menunjukkan bahwa silat adalah identitas yang tak terpisahkan dari Kota Bogor. Melalui momentum Hari Jadi ini, kami perkuat persatuan sekaligus wujudkan komitmen menjaga warisan budaya agar terus lestari,” katanya.
Sekretaris acara sekaligus tokoh senior PPSI, Firman Hidayat, SE, menambahkan pandangan baru mengenai pengembangan silat. “Seni bela diri ini memiliki nilai jual yang tinggi. Kami berusaha membangun kemandirian organisasi, mulai dari penyediaan perlengkapan hingga pengemasan edukasi budaya agar lebih profesional. Hal ini penting agar warisan kita tidak tergerus zaman atau diklaim pihak lain,” tegasnya.
Dengan semangat kebersamaan, para pesilat Kota Bogor menutup kegiatan ini dengan satu tekad: menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai luhur budaya, mencetak generasi tangguh, serta mendukung visi Kota Bogor yang maju, berkarakter, dan membanggakan.
“Bogor Nanjeur, Pesilat Bersatu, Budaya Lestari.”












