Abah Anton Charliyan dalam Seminar FIB Unpad: Naskah Kuno Nusantara Sudah Catat Cara Cegah Stunting

Wapenja.com/Jatinangor – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran menjadi tuan rumah Seminar Nasional bertajuk “Anti Stunting dalam Naskah Sunda Kuno” yang berlangsung di Aula Sastra Jepang, Kampus Jatinangor, Sumedang, pada Senin (24/5). Kegiatan yang didukung penuh oleh program Dana Indonesiana dari LPDP ini menghadirkan sejumlah pakar budaya dan naskah kuno dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Salah satu pembicara utama yang menjadi sorotan adalah DR. Drs. H. Anton Charliyan MPKN, atau yang akrab disapa Abah Anton Charly. Tokoh budayawan Sunda yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Adat Sunda sekaligus dosen di STISIP Tasikmalaya ini memaparkan temuan menarik: upaya pencegahan stunting sejatinya bukanlah hal baru bagi bangsa Indonesia, melainkan sudah tertanam dalam kearifan lokal yang tertulis di naskah-naskah kuno sejak berabad-abad silam.

“Inti dari penelusuran ini menyimpulkan bahwa program anti stunting sebenarnya sudah tercatat rinci dalam warisan leluhur kita. Salah satu bukti paling jelas terdapat dalam naskah Sanghyang Titisjati Pralina, yang memandu langkah-langkah merawat janin mulai usia satu bulan di dalam kandungan hingga lahir dan tumbuh menjadi balita yang sehat serta kuat,” ungkap Abah Anton di hadapan peserta seminar.

Dalam pemaparannya, ia juga menyinggung isi naskah Lagaligo yang berasal dari wilayah Sulawesi Selatan. Naskah tersebut mencatat aturan ketat bagi ibu hamil dan anak balita untuk mengonsumsi ikan, terutama ikan laut. Konon, di masa lalu terdapat aturan sosial yang tegas: anak yang lahir dengan kondisi tubuh pendek atau tidak sehat akan disingkirkan ke pulau terpencil. Hal ini mendorong masyarakat saat itu untuk berlomba-lomba menjaga gizi dan kesehatan sejak masa kehamilan.

Kearifan serupa ternyata tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Di Bali, terdapat Lontar Ushada Taru Pramana yang merinci ratusan jenis tanaman obat untuk mengatasi gangguan kesehatan termasuk stunting. Di tanah Jawa, naskah Serat Centini dan Merapi Merbabu mencatat resep jamu, teknik pijat, pernapasan, hingga olah tubuh. Sementara di Sumatera, Pustaka Laklak menjadi rujukan ramuan obat yang dilengkapi doa-doa khusus.

Berdasarkan catatan dalam naskah-naskah tersebut, para leluhur menerapkan tiga metode utama dalam menjaga kesehatan dan mencegah gangguan tumbuh kembang: pertama, terapi fitofarmaka atau penggunaan tanaman obat, rempah, dan minyak; kedua, terapi fisik berupa pijat dan urut yang umum dilakukan oleh paraji atau ahli pengobatan tradisional; dan ketiga, pendekatan spiritual melalui mantra, doa, puasa, serta benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan pelindung.

Memasuki abad ke-19, seiring berkembangnya kemampuan baca-tulis, ilmu-ilmu pengobatan tersebut dibukukan dalam bentuk Primbon atau Paririmbon. Warisan mantra pun terus dikembangkan, seperti tercatat dalam Mantra Aji Cakra Banaspati dari tradisi Sunda, maupun Kidung Kawedar dan Kidung Rumekso ing Wengi di Jawa yang memadukan nilai leluhur dengan ajaran Islam melalui jalan tasawuf.

“Dulu, pengobatan spiritual ini dijalankan oleh ahli yang memiliki kewibawaan, seperti wali, resi, atau pendeta, sehingga diakui keampuhannya. Berbeda dengan masa kini di mana penggunaan mantra sering kali diasosiasikan dengan dukun dan diragukan keasliannya,” jelas Abah Anton.

Selain Abah Anton, seminar ini juga menghadirkan pembicara lain yakni Prof. Dr. Nurhayati R. M. Hum (Universitas Hasanuddin), Wakil Dekan FIB Unpad Dr. Elis N. Suryani, Dr. Undang Ahmad Darsa, Dr. Wina Erwina, Ph.D. (Universitas Komunikasi), serta dipandu oleh Dr. Rahmat Sopian sebagai moderator.

Naskah-naskah berharga yang menjadi bahan kajian dalam seminar ini, yang berasal dari rentang waktu abad ke-14 hingga ke-19 Masehi, kini tersimpan rapi di Museum Nasional Jakarta dan Museum Sri Baduga Maharaja, Bandung. Penemuan ini membuktikan bahwa perhatian bangsa Indonesia terhadap kesehatan dan kualitas generasi mendatang telah ada sejak zaman dahulu, terabadikan dalam tulisan yang kini menjadi bukti kebesaran budaya Nusantara.