Wapenja.com/Bandung – SMA Kartika XIX-1 Bandung, Jl. Taman Pramuka No. 163, Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat, menghadirkan inovasi pendidikan karakter melalui Program Pesantren Ekologi 2026 pada Ramadan 1447 Hijriah yang memadukan penguatan nilai keagamaan dengan aksi nyata pelestarian lingkungan di lingkungan sekolah.



Kepala SMA Kartika XIX-1 Bandung, Dra. Siti Zuraida, melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Sofyan Mulyana,S.Pd., menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk membangun kesadaran ekologis siswa melalui konsep Panca Niti sekaligus membentuk karakter peduli lingkungan berbasis nilai spiritual Pancawaluya.
Kegiatan Pesantren Ekologi dilaksanakan dalam tiga siklus, yakni pada 24–27 Februari 2026 dengan tema Kebersihan Lingkungan, dilanjutkan 2–6 Maret 2026 secara daring bertema Hemat Energi, serta tahap akhir pada 9–13 Maret 2026.

“Pesantren Ekologi bukan hanya kegiatan keagamaan seperti biasanya, tetapi kami integrasikan dengan edukasi dan praktik langsung menjaga lingkungan. Siswa tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga melakukan aksi nyata,” ujar Sofyan, Jumat (27/2/2026).

Sebanyak 611 siswa kelas X dan XI mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari kajian tematik lingkungan dalam perspektif agama, aksi menjaga kebersihan sekolah, penanaman pohon, hingga observasi persoalan lingkungan yang kemudian dicarikan solusi bersama.
Menurut Sofyan, pendekatan tersebut penting agar siswa memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral sekaligus wujud keimanan.
“Kami ingin menanamkan bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah. Setiap pagi kegiatan diawali dengan shalat Dhuha dan tadarus berjamaah, infak Poe Ibu, hingga berbagi takjil kepada masyarakat,” jelasnya.
Pada akhir kegiatan, sekolah juga bekerja sama dengan Rumah Yatim, Remaja Anti Pergaulan Bebas, serta Rumah Pemuda Madani yang memberikan materi kepada siswa terkait bahaya pergaulan bebas, penciptaan alam semesta, bakti kepada orang tua dan guru, serta pembahasan perilaku tercela.

Seluruh rangkaian kegiatan dilaporkan kepada Pengawas Dinas Pendidikan Jawa Barat sebagai bentuk tanggung jawab pelaksanaan Program Pesantren Ekologi yang digagas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Insya Allah pada 13 Maret mendatang akan dilaksanakan Tabligh Akbar sebagai penutup Pesantren Ekologi Ramadan 2026,” tambahnya.
Sofyan berharap program ini dapat menjadi kegiatan berkelanjutan sekaligus identitas sekolah dalam membentuk generasi religius yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan.
“Kami ingin lulusan sekolah ini tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan lingkungan yang kuat sebagai wujud ketakwaan kepada Sang Pencipta,” katanya.
Sementara itu, Ketua OSIS SMA Kartika XIX-1 Bandung, Nazkila Arjelita, menilai konsep Pesantren Ekologi memberikan pengalaman berbeda dibanding pesantren Ramadan pada umumnya.
“Konsep Panca Niti yang meliputi niti harti, niti surti, niti bukti, niti bakti, dan niti sajati membuat kami memahami bahwa menjaga alam merupakan bagian dari iman,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan siswa kelas XI, Kaela N. Suherman. Ia mengaku banyak manfaat yang dirasakan, mulai dari pembiasaan menjaga kebersihan, menanam tanaman, menciptakan lingkungan sekolah yang hijau, hingga kesadaran untuk menghemat energi.
“Kami belajar bahwa sebelum mengajak masyarakat menjaga lingkungan, kami harus memulainya dari diri sendiri, baik di sekolah maupun di rumah,” ujarnya.
Para siswa berharap Program Pesantren Ekologi dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan karena dinilai memberikan dampak positif bagi lingkungan sekolah maupun masyarakat.












