OPINI: PEJUANG KEMANUSIAAN VS PRASANGKA BURUK

Oleh: Ayah Ariya (*)

Setiap Pejuang Kemanusiaan (siapapun dia) pasti pernah mengalami hal ini. Sudah bekerja kwraa mengorbankan pikiran, waktu dan Tenaga bahkan biaya, namun selalu ada saja yang maido dan  tidak percaya.

Semua kebaikan yang diperjuangkan dengan penuh keikhlasan, sekan selalu terasa salah dan tidak berguna bagi mereka yang memang tidak suka.

Itulah konsekuensi Umum  Pejuang Kemanusiaan yang harus disadari bahwa itu semua pasti terjadi dan akan dialami.

Semakin besar lingkupnya, makin besar pula potensi fitnahnya dan makin gencar pula pihak pihak yang tidak suka dan akan selalu menyerang dengan berbagai cara.

Saya selalu menyemangati rekan rekan muda yang baru terjun di bidang Kemanusiaan untuk menyiapkan mental.

Khususnya kekuatan mental untuk menghadapi fitnah dan prasangka buruk yang pasti akan dialami oleh semua Pejuang Kemanusiaan.

Tidak perlu sakit hati, jangan baperan dan jangan mudah tersinggung jika benar benar ingin berjuang dibidang kemanusiaan.

Tidak perlu patah semangat jika kebaikan yang kita perjuangkan tidak dihargai, jangan metaa kecewa jika kasa baik kita tidak dianggap sama sekali dan bahkan dilupakan.

Pejuang Kemanusiaan adalah “pekerjaan”  terkait hubungan vertikal  dengan yang Maha Kuasa, jadi biarlah semua urusan kita serahkan dan pasrahkan kepada yangbMaha Kuasa.

Pejuang Kemanusiaan harus niatnya ibadah. Tidak berharap pujian dari m’abusua, tapi sematanmata mencari keberkahan dari Yang Maha Kuasa.

Biarlah fitnah, caci maki, prasangka buruk menjadi bagian dari proses perjalanan ibadah kita.

Kita tidak perlu pujian manusia, kita tidak butuh pengakuan manusia. .Kita hanya butuh memperoleh keberkahan dari apa yang kita kerjakan.

 

*) Ayah Ariya (R.M.B.Ariyanto Surantono) Pejuang Kemanusiaan