SMK ICB Cinta Niaga Bandung Bangun Mental Antifragile dan Jiwa Wirausaha Siswa Lewat Workshop Penguatan Kompetensi Lulusan

Wapenja.Com/Bandung – Di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), serta ketidakpastian dunia kerja dan dunia usaha yang terus berubah, dunia pendidikan dituntut untuk tidak hanya mencetak siswa yang unggul secara akademik, tetapi juga tangguh, kreatif, inovatif, adaptif, dan memiliki keberanian menghadapi tantangan kehidupan.

Hal tersebut menjadi perhatian serius SMK ICB Cinta Niaga Bandung melalui kegiatan Workshop Penguatan Kompetensi Lulusan Tahun Pelajaran 2025/2026 dengan tema “Membangun UMKM yang Kreatif dan Inovatif Menuju Kemandirian Hidup” yang berlangsung mulai 4 Mei hingga 20 Juni 2026 di GOR SMK ICB Cinta Niaga Bandung, Jl. Pahlawan No. 19B, Cihaurgeulis, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung.

Kegiatan ini diikuti oleh 132 siswa kelas XII dari jurusan Pemasaran/Bisnis Ritel, Manajemen Perkantoran, Akuntansi, serta Rekayasa Perangkat Lunak.

Workshop menghadirkan pemateri dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Bandung, Herni Susianti, S.Sos., M.Si., serta tiga praktisi UMKM, yakni Dedeh Kurniasih, Oetari Agustin, dan Adam Firdaus.

Kepala SMK ICB Cinta Niaga Bandung, Galih Arifandi, S.Pd. (red/ist)

Kepala SMK ICB Cinta Niaga Bandung, Galih Arifandi, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu penguatan keunggulan sekolah berbasis Bisnis dan Manajemen (Bismen), selain program Praktik Kerja Lapangan (PKL) bersama PT. Akur Pratama atau Yogya Group.

“Walaupun keunggulan kami adalah PKL dengan PT. Akur Pratama atau Yogya Group, saya ingin ada suplemen atau keunggulan lainnya. Apalagi core SMK adalah bekerja dan melanjutkan. Di bekerjanya kami sudah dengan Yogya Group, nah di wirausahanyalah di kegiatan ini salah satunya. Karena kadang-kadang pembinaan wirausaha hanya sekedar seremoni atau saat KBM saja,” ujar Galih.

Menurutnya, minat siswa SMK terhadap dunia wirausaha masih tergolong rendah sehingga sekolah harus hadir memberikan dorongan dan pembiasaan sejak dini agar siswa memiliki keberanian untuk mencoba.

“Pasti anak SMK itu semangat wirausahanya terbilang rendah. Maka dari itu saya memutuskan bahwa mereka harus dipaksa, mumpung masih umur SMK. Namun tetap didorong dari segi motivasinya. Jadi walaupun peminatnya rendah tapi di push, minimal meningkat semangat wirausahanya. Itulah salah satu tujuan workshop kami,” katanya.

Galih menambahkan bahwa target utama kegiatan tersebut adalah menciptakan lulusan yang siap kerja sekaligus mampu membuka peluang usaha sendiri sehingga dapat menekan angka pengangguran lulusan SMK. Hasilnya nanti akan diukur melalui tracer study setelah siswa lulus.

Selama hampir dua bulan, siswa menjalani pembekalan intensif dan dibagi ke dalam kelompok lintas jurusan untuk membangun usaha bersama dengan pendampingan mentor.

Mereka belajar menyusun proposal bisnis, membuat produk, memasarkan secara langsung, hingga menghitung omset dan profit usaha.
Setiap pekan dilakukan evaluasi mengenai perkembangan usaha, kendala yang dihadapi, serta strategi pengembangan bisnis siswa. Hasil usaha nantinya akan dipamerkan dalam kegiatan gelar karya dan kelompok terbaik akan mendapatkan penghargaan.

Drs. Holis Bachtiar. (red/ist)

Ketua Panitia Workshop sekaligus PKK dan Konsentrasi Keahlian Bisnis Ritel (BR), Drs. Holis Bachtiar, mengatakan bahwa pendidikan saat ini harus mampu membentuk siswa yang memiliki mental kuat dalam menghadapi perubahan zaman dan ketidakpastian masa depan.

“Tahun ajaran baru bukan hanya soal materi pembelajaran, tetapi bagaimana sekolah mampu membentuk karakter siswa yang berani mencoba, tidak takut gagal, dan mampu bertahan di tengah ketidakpastian dunia kerja maupun dunia usaha. Pendidikan kewirausahaan bukan sekadar mengajarkan jualan, tetapi melatih siswa agar tumbuh dari kesalahan, tekanan, dan tantangan kehidupan,” ujarnya.

Menurutnya, konsep pendidikan antifragile menjadi penting diterapkan dalam pembelajaran modern, terutama bagi siswa SMK yang akan langsung menghadapi dunia kerja maupun dunia usaha setelah lulus.

“Kami ingin siswa SMK ICB Cinta Niaga memiliki mental antifragile, yaitu pribadi yang tidak mudah menyerah dan justru semakin berkembang ketika menghadapi tantangan. Itulah yang terus kami tanamkan dalam pembelajaran PKK dan Bisnis Ritel,” tambahnya.

Dalam workshop tersebut siswa mendapatkan berbagai materi praktik, mulai dari perencanaan UMKM, legalisasi usaha seperti NIB, PIRT, Halal dan HAKI, pembuatan produk food dan non-food, packaging, labelling, strategi pemasaran offline maupun online, hingga penyusunan laporan keuangan usaha.

Sekretaris Yayasan ICB, Limbert Hutahaean, S.T., M.A., menyampaikan dukungan program kewirausahaan siswa. (red/ist)

Sekretaris Yayasan ICB, Limbert Hutahaean, S.T., M.A., menyampaikan bahwa workshop yang dilaksanakan bukan hanya sekadar kegiatan formalitas, tetapi bentuk kesungguhan sekolah dalam membina siswa menjadi wirausahawan muda.

Menurut Limbert, pihak yayasan memiliki harapan besar agar lulusan SMK ICB Cinta Niaga lebih tertarik memilih jalur wirausaha setelah lulus. Bahkan sekolah siap membantu siswa dalam proses pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) agar produk yang dihasilkan memiliki legalitas usaha.

“Kami benar-benar bantu anak-anak kami supaya bisa sampai cuan istilahnya. Kami bantu anak-anak kami sampai bisa menjual produknya hingga menikmati hasilnya. Patokan cuannya mungkin untuk saat ini ditargetkan semoga bisa sampai setara UMR ya. Sehingga disinilah mental pengusaha kami tanamkan,” tegas Limbert.

Ia menjelaskan bahwa sebelumnya sekolah juga pernah melaksanakan kegiatan serupa dalam bentuk talkshow kewirausahaan. Bahkan saat itu dirinya ikut mendaftarkan NIB melalui sekolah sebagai contoh keseriusan sekolah dalam mendukung siswa berwirausaha.

Mewakili Yayasan ICB, Limbert mengatakan bahwa pihaknya mendukung penuh program tersebut dengan menyediakan fasilitas business incubator atau inkubator bisnis bagi siswa. Di dalam ruangan tersebut terdapat display produk karya siswa serta ruang konsultasi usaha.

“Ini diperuntukkan khusus bagi para siswa kelas XII semua jurusan. Karena di kelas X mereka sudah diberikan Business Planning, kelas XI tentang selling atau penjualan dan sebelum kelas XII mereka ditentukan dulu produknya bisa lanjut atau diubah. Kalau lanjut, bisa terus sampai kita kasih penghargaan bagi yang omsetnya seperti UMKM pada umumnya,” katanya.

Ia berharap siswa tidak hanya memenuhi syarat administratif pendirian NIB, tetapi benar-benar mampu menghasilkan produk yang layak jual dan memiliki kualitas yang baik. Karena itu, pihak sekolah melakukan kurasi terhadap kualitas produk siswa sebelum dipasarkan lebih luas.

Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Mereka aktif mengikuti setiap sesi praktik usaha dan diskusi bersama mentor.

Novera, siswi kelas XII jurusan Pemasaran/Bisnis Ritel SMK ICB Cinta Niaga Bandung, mengaku mendapatkan pengalaman baru dan motivasi besar setelah mengikuti workshop tersebut.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena kami belajar langsung tentang dunia usaha, mulai dari cara membuat produk, pemasaran online, hingga bagaimana membangun usaha sendiri. Saya jadi lebih percaya diri dan termotivasi untuk mencoba berwirausaha setelah lulus nanti,” ujarnya.