Wapenja.com/Sukabumi – Sebuah perjalanan penuh makna dilakukan oleh Tim Inti Majelis Adat Sunda Jawa Barat (MASDA Jabar), yang dipimpin oleh Prof. Dany Hilman, Bunda Rr Okky JJ, Ki Pamanah Rasa Abah Oman R, bersama jajaran tokoh adat lainnya. Mereka menyambangi Kampung Adat Cipta Gelar Alam, Sukabumi, dan disambut hangat oleh Abah Ugi, Abah Yoyo, serta masyarakat adat setempat, 7 April 2026.
Kunjungan ini bukan sekadar pertemuan budaya, melainkan sebuah penyelidikan mendalam terhadap sistem ketahanan pangan, tradisi, dan lingkungan hidup yang diwariskan turun-temurun. Fokus utama penelitian adalah Leuit – gudang padi tradisional yang menjadi simbol sekaligus benteng ketahanan pangan masyarakat adat Sunda. Konsep Leuit Salawe, Leuit Warga, Leuit Rurukan, dan Leuit Jimat terbukti menjadi rahasia utama mengapa kampung adat mampu bertahan menghadapi musim ekstrem, baik kemarau panjang maupun hujan deras, tanpa pernah mengalami kelaparan.
Bunda Okky mengisahkan pengalaman luar biasa saat disuguhi beras yang telah disimpan selama 15 tahun. “Beras itu tetap bersih, segar, dan utuh tanpa dimakan kutu. Ini bukti nyata bahwa cadangan logistik mereka siap untuk jangka panjang. Konsep Leuit Salawe memungkinkan masyarakat adat bertahan hingga 25 tahun ke depan,” ungkapnya.
Prof. Dany Hilman menegaskan bahwa teknologi buhun yang tersimpan di kampung adat tidak kalah dengan teknologi modern. “Banyak sekali pengetahuan masa lalu yang masih relevan: pupuk alami tanpa bahan kimia, sistem pertanian anti hama, pondasi rumah anti gempa, hingga pengelolaan sumber daya mineral dan energi tanpa merusak alam. Semua ini adalah warisan yang harus kita pelajari kembali,” katanya.
Abah Oman Rukmana atau biasa dipanggil Ki Pamanah Rasa menambahkan bahwa selain ketahanan pangan, kampung adat juga memiliki sistem keamanan lingkungan jaga baya yang sederhana namun efektif. Sistem ini terbukti mampu menjaga harmoni sosial dengan rekor zero kriminalitas, sebuah pencapaian yang jarang ditemukan di masyarakat modern.
Ketua Umum MASDA Jabar, Abah Anton Charliyan, menekankan bahwa kampung adat yang sering dianggap lugu dan tertinggal justru menyimpan mutiara kearifan lokal. “Saat pandemi Covid-19 melanda dunia, masyarakat kampung adat tetap aman tanpa terdampak. Tidak ada kasus kelaparan, stunting, atau penyakit berat. Bukankah ini bukti bahwa kita harus banyak belajar dari mereka?” tegasnya.
Kampung adat di Tatar Sunda – seperti Cipta Gelar, Naga, Baduy, Dukuh, dan Kuta – kini semakin dipandang sebagai laboratorium hidup yang menyimpan rahasia ketahanan pangan, keamanan sosial, dan kelestarian lingkungan. Mereka membuktikan bahwa dengan kearifan lokal, masyarakat bisa mandiri, sehat, dan sejahtera tanpa bergantung pada sistem modern yang sering rapuh.
Pertanyaan besar pun muncul: Apakah saatnya bangsa ini menoleh kembali ke kearifan lokal sebagai solusi nyata menghadapi krisis global?












