Wapenja.com/Tasikmalaya – Peringatan Milangkala Tatar Sunda kembali digelar dengan penuh khidmat melalui Kirab Budaya “Napak Tilas Pajajaran” yang menghadirkan Mahkota Binokasih sebagai simbol legitimasi eksistensi masyarakat Sunda di masa lalu. Acara yang telah memasuki pelaksanaan ke-3 ini, setelah sebelumnya berlangsung di Sumedang dan Kawali Astana Gede Ciamis, diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Kabupaten Tasikmalaya, Senin (4/5/2026).
Kirab budaya ini dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, bersama jajaran Forkopimda, tokoh masyarakat, budayawan, serta puluhan ribu masyarakat yang antusias mengikuti jalannya prosesi. Kehadiran ribuan warga yang memadati jalur kirab menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional masyarakat Sunda terhadap simbol-simbol budaya leluhur.
Awalnya, kirab dijadwalkan berakhir di Kampung Naga, Kecamatan Salawu, ikon budaya adat Sunda yang dikenal dengan kesederhanaan dan keteguhan menjaga tradisi. Namun, atas pertimbangan potensi kemacetan parah di jalur menuju lokasi, Gubernur Dedi Mulyadi memutuskan untuk mengalihkan titik akhir kirab menuju Gedung Pendopo Kabupaten Tasikmalaya. Keputusan ini tidak mengurangi kekhidmatan acara, justru memperluas akses masyarakat untuk menyaksikan prosesi budaya yang sarat makna.
Prosesi dimulai dari Kampus Universitas Cipasung dengan iring-iringan kuda pengawal, kereta kencana pembawa Mahkota Binokasih, serta penampilan seni budaya tradisional dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat. Atraksi kesenian daerah, tarian tradisional, hingga musik khas Sunda menambah semarak suasana, menjadikan kirab ini bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga ajang silaturahmi masyarakat lintas daerah.
Tema khusus hari ketiga kirab, “Nyukcruk Galur Galunggung”, menegaskan pentingnya menjaga amanat leluhur. Dalam sambutannya, Kang Dedi menekankan nilai welas asih dan tanggung jawab sosial. “Naon nu dilakonan hiji amanah ti karuhun, kudu deudeuhan, welasan, asihan. Ulah aya rakyat nu gering teu ka ubaran, ulah aya nu teu bisa sakola,” ujar Dedi Mulyadi.
Selain itu, prosesi juga diwarnai penyerahan Naskah Amanat Galunggung oleh Bupati Tasikmalaya H. Cecep Nurul Yakin didampingi Abah Anton Charliyan yang juga merupakan Sesepuh Galunggung menyerahkan Naskah ”Amanat Galunggung” kepada Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, sebagai Wujud Estapet Kepemimpinan Warisan Leluhur dari Maharaja Sunda Galuh Abad XII yang berasal dari Galunggung Prabu Darmasiksa agar kita semua sbg masyarakat Sunda Galuh selalu ingat bahwa ada amanat dari para leluhur Galunggung yang harus tetap dipegang teguh oleh kita dan Para Rajaputra /Pemimpin sebagai Penerusnya Yang berbunyi “Hana Nguni Hana Mangke, Tan Hana Nguni Tan Hana Mangke” (ada masa lalu, maka ada masa kini. jika tidak ada masa lalu, tidak akan ada masa kini). Sebuah pengingat untuk terus dijaga, dirawat, dan diestarikan sbg warisan budaya leluhur.
Dan yang kedua yang paling utama adalah tentang Penanaman Jiwa Cinta Tanah Air dan Nasionalme yang sudah dijadikan pesan khusus yang paling Sakral Para Raja Sunda Galuh sejak jaman Kabataraan Abad ke-7 yang mengatakan : “Jaga ieu Kabuyutan ulah tepi Ka di Kuasai ku Asing , Lamun raja Putra teu bisa ngajaga Kabuyutan, maka Leuwih Hina Ti Batan Kulit lasun Nu aya di Jariyan.”
Yang artinya: Jaga ini Kabuyutan Tanah Leluhur ( Kampung2 Adat / Lemah Cai , Tanah air ) jangan sampai di kuasai oleh orang asing , jika kita sebagai keturunannya tidak bisa menjaga Kabuyutan, maka derajatnya lebih hina dari bangkai musang yang ada di tempat sampah (lebih hina dari yang paling hina).
Abah Anton menegaskan bahwa kirab budaya ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum strategis untuk memperkuat persatuan, kebanggaan, dan identitas Sunda. Ia menjelaskan makna filosofis Mahkota Binokasih sebagai simbol kepemimpinan penuh kasih sayang, kebijaksanaan, dan legitimasi eksistensi masyarakat Sunda.
“Mahkota Binokasih adalah simbol kebanggaan, ketangguhan, dan pengingat akar sejarah yang tidak boleh dilupakan di tengah derasnya arus modernisasi,” tegas Abah Anton.
Lebih jauh, Abah Anton menekankan bahwa Mahkota Binokasih mengandung filosofi “penuh kasih sayang” atau “kebaikan yang nyata”, sebuah pesan universal bahwa kepemimpinan sejati harus dilandasi cinta kasih, asah, asih, dan asuh demi kesejahteraan rakyat. Mahkota ini bukan hanya artefak sejarah, melainkan magnet spiritual yang menghubungkan generasi kini dengan kejayaan Sunda di masa lalu.
Acara berlangsung meriah, penuh semangat kebersamaan, dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Tasikmalaya. Puluhan ribu warga menyaksikan prosesi dengan antusias, menjadikan kirab ini sebagai bukti nyata kolaborasi pemerintah provinsi, pemerintah daerah, tokoh adat, serta masyarakat dalam menjaga warisan budaya leluhur sekaligus meneguhkan jati diri Sunda di era modern.
Kirab Budaya Mahkota Binokasih di Tasikmalaya bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga pernyataan politik kebudayaan: bahwa Sunda memiliki akar sejarah yang kokoh, nilai-nilai luhur yang relevan, dan identitas yang harus terus dijaga di tengah tantangan globalisasi.












