Wapenja.com/Pandeglang – Setelah viral di media sosial, perhatian publik pun mengalir deras ke keluarga Arman (57), warga Kampung Baru Cilurah, Desa Sukanegara, Kecamatan Carita. Kisah putrinya, Ati (16), yang terpaksa putus sekolah karena kemiskinan dan tinggal di gubuk reyot. Gelombang simpati itu kini menjelma nyata: rumah lama yang lapuk dan nyaris roboh mulai dibongkar untuk diganti dengan hunian yang lebih layak.
Sabtu (6/6/2026), suasana Kampung Cilurah dipenuhi semangat kebersamaan. Warga berbondong-bondong datang, membawa peralatan sederhana, lalu bergotong royong merobohkan bangunan lama milik Arman. Kayu-kayu rapuh dan dinding yang hampir runtuh diangkat bersama, sementara sebagian warga membersihkan lahan untuk pembangunan rumah baru. Dana pembangunan berasal dari sumbangan donatur dan masyarakat yang tergerak setelah mengetahui kisah keluarga ini.
Arman tak kuasa menahan air mata. Baginya, perhatian yang datang dari warga sekitar dan orang-orang yang bahkan tak dikenalnya adalah anugerah besar. “Saya sangat berterima kasih. Semoga rumah ini bisa segera berdiri dan anak-anak saya hidup lebih aman,” ucapnya dengan suara bergetar.
Lebih dari sekadar membangun rumah, aksi ini meneguhkan nilai solidaritas dan kepedulian sosial yang kerap menjadi kekuatan desa. Warga berharap rumah baru ini bukan hanya memberi kenyamanan fisik, tetapi juga membuka jalan bagi Ati untuk kembali melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana kisah yang viral di media sosial dapat memantik aksi nyata di lapangan. Dari sebuah unggahan yang menyentuh hati, lahirlah gerakan solidaritas yang mengubah nasib sebuah keluarga. Di tengah keterbatasan, warga Cilurah membuktikan bahwa kebersamaan mampu menjadi solusi atas masalah sosial yang kerap luput dari perhatian pemerintah.
Lebih jauh, peristiwa ini juga menyingkap ironi: masih banyak keluarga di pelosok desa yang hidup dalam kondisi serupa, namun tidak semua kisah mereka mendapat sorotan publik. Kasus Arman menjadi contoh bagaimana “viral” bisa menjadi pintu masuk bagi bantuan, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa sistem perlindungan sosial seharusnya hadir tanpa menunggu publikasi atau simpati massal.
Kisah ini pun menjadi refleksi lebih luas tentang peran media sosial dalam membangun kepedulian. Di satu sisi, ia mampu menggerakkan hati banyak orang dan menciptakan aksi nyata. Namun di sisi lain, ketergantungan pada “viral” sebagai pemicu bantuan memperlihatkan lemahnya mekanisme negara dalam menjangkau warganya yang paling rentan. Solidaritas warga Cilurah adalah teladan, tetapi juga kritik terselubung terhadap sistem yang seharusnya lebih sigap melindungi.












