Wapenja.com/Cilegon – Deretan insiden berbahaya di kawasan industri Cilegon seolah menjadi tanda tanya besar yang tak kunjung terjawab. Baru saja berlalu kejadian di PT Vopak, kini warga kembali digegerkan oleh insiden di PT Mitsubishi Chemical Indonesia (MCCI).
Rangkaian peristiwa ini memicu tudingan keras bahwa pengawasan pemerintah daerah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), nyaris tak berfungsi menjaga keamanan dan keselamatan lingkungan.
Kang Abhel, Ketua DPD Paguron Jalak Banten Nusantara (PJBN) sekaligus Koordinator Koalisi Ormas Peduli Industri (KOPI), menyebut situasi ini sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, Cilegon yang dipenuhi pabrik kimia, depot, dan terminal seolah berubah menjadi “bom waktu” yang bisa meledak kapan saja.
“Coba hitung sendiri, sudah tiga kali insiden besar terjadi. Pertama di PT Chandra Asri tahun lalu, lalu dalam kurun satu tahun ini berturut-turut di PT Vopak dan sekarang di MCCI. Ini bukan lagi kebetulan, tapi tanda nyata adanya kegagalan sistem,” tegas Kang Abhel, Senin (25/5/2026).
Ia sangat menyayangkan sikap DLH yang dinilai lambat dan tidak belajar dari sejarah. Padahal, MCCI sendiri sudah tercatat pernah mengalami ledakan dan kebocoran gas pada 23 Februari 2022 silam. Insiden serupa terulang kembali, padahal seharusnya evaluasi ketat sudah dilakukan pasca-kejadian terdahulu.
“Selalu saja alasan yang muncul adalah kesalahan manusia atau human error. Namun mencegah hal itu terulang kembali adalah inti dari Standar Operasional Prosedur (SOP). Kalau pabrik yang sama sering bermasalah, artinya ada yang tidak beres, dan yang paling menderita tentu masyarakat sekitar yang menjadi tameng risiko,” ungkapnya dengan nada kesal.
Kang Abhel dan koalisi ormas menuntut DLH Cilegon berhenti bersikap pasif. Pengawasan harus diperketat dan perusahaan wajib dipaksa patuh aturan, bukan sekadar diberi peringatan ringan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan apa pun dari pihak DLH terkait langkah nyata apa yang akan diambil untuk menghentikan rangkaian insiden yang makin mengancam nyawa warga ini. Apakah keamanan lingkungan di Cilegon hanya jadi wacana belaka? (*/red)












