SMA Labschool UPI Bandung Gelar IHT Pancawaluya, Perkuat Pendidikan Karakter Siswa

Komitmen Bersama Implementasi Pancawaluya di Lingkungan Sekolah. (red/ist)

Wapenja.com/BandungSMA Labschool UPI Bandung yang berlokasi di Jalan Senjayaguru, Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, menggelar kegiatan In House Training (IHT) Program Pancawaluya bagi seluruh guru dan tenaga kependidikan pada 11–13 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 42 guru dan tenaga kependidikan sebagai bentuk komitmen sekolah dalam memperkuat pendidikan karakter peserta didik.

Dede saepudin, M.Pd,.M.Si., Prof. Dr. M Solehuddin, M.Pd, M.A., Pengawas Pembina Dede Saepudin,M.Pd.,M.Si., Kepala SMA Labschool Komalia, S.Pd, M.Pd. (red/ist)

Kepala sekolah, Komalia, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa lima aspek utama dalam Pancawaluya yang digagas Gubernur Jawa Barat, yakni cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (cerdas), dan singer (tanggap), sejatinya telah menjadi bagian dari budaya pendidikan di sekolahnya.

“Kami melihat peningkatan pendidikan dan karakter siswa yang selama ini kami terapkan sudah selaras dengan nilai-nilai Pancawaluya. Karena itu, kami ingin mengetahui lebih jauh tujuan Pancawaluya jika diterapkan secara terstruktur oleh guru kepada peserta didik,” ujar Komalia, Jumat (13/2/2026).

Ia menambahkan, sekolahnya menjadi salah satu sekolah swasta yang menginisiasi pelaksanaan IHT Pancawaluya, meskipun tidak semua sekolah swasta melaksanakan program serupa. Langkah tersebut diambil karena yayasan yang menaungi sekolah memiliki perhatian besar terhadap penguatan karakter siswa sebagai bekal masa depan.

“Kegiatan IHT ini memang tidak kami masukkan dalam Rencana Kerja Sekolah (RKS). Namun, saya berinisiatif mengusulkan kepada yayasan untuk melaksanakannya karena diyakini dapat berdampak positif terhadap peningkatan karakter siswa,” jelasnya.

Selama pelaksanaan, sekolah menghadirkan sejumlah narasumber dan fasilitator yang memaparkan secara komprehensif Program Pancawaluya, di antaranya Dede Saepudin, M.Pd., M.Si., Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., Ai Herlina, M.Pd., serta Darpan, M.Pd. Para guru dan tenaga kependidikan tidak hanya menerima materi konseptual, tetapi juga dibekali praktik penerapan, termasuk strategi bertindak serta teknik ice breaking yang berpedoman pada nilai-nilai Pancawaluya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga didorong untuk menyusun program sekolah yang terintegrasi dengan Pancawaluya dan dituangkan dalam Rencana Tindak Lanjut (RTL) bagi siswa.

Adapun indikator capaian dalam IHT ini di antaranya pembelajar mampu menjelaskan berbagai permasalahan fenomena sosial beserta solusinya, serta mampu menjelaskan urgensi pendidikan Pancawaluya dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut pihak sekolah, program Pancawaluya memiliki banyak nilai positif, antara lain membentuk karakter pelajar yang kuat dan berbudaya, menekan kenakalan remaja serta perilaku menyimpang, menumbuhkan disiplin dan tanggung jawab, hingga menguatkan identitas budaya lokal, khususnya nilai-nilai Sunda di Jawa Barat.

Ke depan, bidang kesiswaan, kurikulum, dan seluruh unsur sekolah diharapkan mampu berinovasi dalam mengimplementasikan Pancawaluya secara menyeluruh.

“Kami berharap setelah program ini diterapkan, ada perubahan signifikan terhadap karakter siswa. Meskipun secara umum karakter siswa kami sudah baik karena memiliki misi religius dan kolaboratif, kami menilai budaya Sunda sangat relevan dan selaras dengan konsep Pancawaluya,” pungkas Komalia.