Wapenja.com – Bulan Ramadhan tahun 1447 H yang diperkirakan dimulai pada 19 Februari 2026 menjadi momen yang sangat dinantikan oleh masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat kejawen. Mereka menghadapinya dengan berbagai tradisi khas yang memadukan nilai-nilai budaya lokal dan ajaran agama, menciptakan suasana yang khas dan penuh makna.
Tradisi Nyadran Sebagai Persiapan Spiritual
Menjelang Ramadhan, tepatnya pada bulan Ruwah (sesuai kalender Jawa) atau bulan Sya’ban dalam kalender Hijriyah, masyarakat kejawen banyak melaksanakan tradisi Nyadran. Tradisi ini yang berakar dari pra-Islam kemudian diintegrasikan dengan ajaran Islam oleh para Wali Songo, menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur dan sarana membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci.
Rangkaian kegiatan dalam Nyadran meliputi ziarah dan pembersihan makam, di mana keluarga besar berkumpul untuk membersihkan area makam, berdoa bersama, dan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk mendoakan arwah leluhur. Setelah itu, biasanya diadakan kenduri atau selamatan dengan menyajikan makanan khas seperti nasi tumpeng, ingkung ayam, dan apem, yang memiliki makna simbolis. Selain itu, masyarakat juga melakukan sedekah dengan membagikan makanan kepada sekitar sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian sosial. Di beberapa daerah, Nyadran juga diwarnai dengan kirab budaya yang diiringi kesenian tradisional seperti gamelan dan wayang kulit.
Tradisi Megengan dengan Makna Mendalam
Selain Nyadran, menjelang Ramadhan juga ada tradisi Megengan, yang biasanya dilakukan pada minggu terakhir bulan Sya’ban atau sehari menjelang puasa. Tradisi ini berasal dari cerita Sunan Kalijaga yang membagikan kue apem kepada masyarakat yang kelaparan sambil mengajak berdzikir.
Kue apem menjadi simbol utama dalam Megengan. Secara filosofis, apem diambil dari bahasa Arab “afu an” yang berarti ampunan, dan juga dianggap sebagai simbol tolak bala serta rasa syukur atas rezeki yang diberikan. Masyarakat akan membagikan apem dan makanan lainnya kepada tetangga, baik secara individu maupun secara terpusat di musholla atau masjid setelah doa bersama. Di Cirebon, apem juga dipandang sebagai simbol kebersamaan dan silaturahmi.
Menjalani Ramadhan dengan Nilai Kearifan Lokal
Selama bulan Ramadhan itu sendiri, masyarakat kejawen tidak hanya menjalankan ibadah puasa, shalat tarawih, dan membaca Al-Qur’an seperti umat Islam pada umumnya, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai kejawen seperti rukuning dhumat (kebersamaan), simpati dan empati, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial. Mereka sering mengadakan kegiatan kebersamaan seperti buka puasa bersama di lingkungan atau masjid, serta berbagi takjil kepada yang membutuhkan.
Nilai-nilai budaya lokal ini membuat cara masyarakat kejawen menghadapi Ramadhan menjadi unik, di mana tradisi turun-temurun tidak hanya dilestarikan tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat hubungan dengan Tuhan serta sesama.












