Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000, Purbaya: Jangan Panik, Fundamental Kita Kuat!

Menkeu Purbaya menyampaikan pada konferensi pers #APBNKiTa hari ini bahwa pada triwulan terakhir tahun 2025. (foto instagram @kemenkeuri)

Wapenja.com/Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan setelah hampir menyentuh level Rp 17.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (19/1). Meski tekanan terlihat nyata, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa rupiah memiliki peluang besar untuk segera berbalik menguat.

Kondisi Pasar

  • Kurs rupiah sempat mendekati Rp 17.000 per dolar AS, level psikologis yang memicu kekhawatiran pelaku pasar.
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencetak rekor baru dengan menutup perdagangan di level 9.133,87 (All Time High), menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang ekonomi Indonesia.
  • Investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 703 miliar, menandakan adanya aksi ambil untung di tengah volatilitas pasar.

Pernyataan Purbaya

  • Menurut Purbaya, penguatan rupiah hanya soal waktu karena suplai dolar akan bertambah seiring masuknya aliran modal asing, terutama dari investasi langsung dan portofolio.
  • Ia menekankan bahwa pergerakan rupiah bergantung pada fundamental ekonomi, yang diyakini masih cukup kuat dengan inflasi terkendali dan pertumbuhan ekonomi di atas 5%.
  • Purbaya juga menepis anggapan bahwa pelemahan rupiah terkait wacana penunjukan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Menurutnya, hal itu tidak akan mengganggu independensi BI maupun kredibilitas kebijakan moneter.

Konteks Lebih Luas

  • Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS akibat kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve dan ketidakpastian geopolitik global.
  • Mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, memang cenderung tertekan dalam kondisi ini. Namun, Indonesia masih memiliki daya tarik berkat stabilitas politik dan prospek investasi di sektor energi terbarukan, infrastruktur, serta ekonomi digital.
  • Optimisme pemerintah juga diperkuat oleh kinerja pasar saham yang terus mencatatkan rekor, menjadi indikator bahwa investor domestik masih percaya pada arah ekonomi nasional.

Analisis Singkat

  • Risiko jangka pendek: Rupiah bisa kembali tertekan jika arus keluar modal asing berlanjut.
  • Peluang jangka menengah: Masuknya investasi baru dan penguatan cadangan devisa berpotensi menahan pelemahan rupiah.
  • Sinyal pasar: IHSG yang mencetak rekor menunjukkan bahwa investor melihat pelemahan rupiah sebagai fenomena sementara, bukan krisis struktural.