Wapenja.com – Di Kabupaten Lebak, Banten, tepatnya di wilayah Cirinten, hidup sebuah komunitas adat yang unik: Baduy Luar. Mereka adalah bagian dari masyarakat adat Kanekes yang dikenal sebagai Urang Panamping—pendamping sekaligus pelindung bagi saudara mereka di Baduy Dalam (Tangtu). Kisah mereka bukan sekadar cerita tentang adat, melainkan tentang bagaimana sebuah komunitas mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Peran Sebagai Panamping
Baduy Luar memiliki fungsi penting dalam struktur sosial Kanekes. Jika Baduy Dalam menjaga kesucian wilayah inti dan fokus pada ritual ibadah, maka Baduy Luar menjadi jembatan dengan dunia luar. Cirinten sendiri menjadi salah satu daerah penyangga, tempat mereka yang memilih keluar dari aturan ketat Baduy Dalam menetap. Dengan posisi ini, Baduy Luar berperan sebagai benteng sekaligus mediator antara tradisi dan modernitas.
Kehidupan yang Lebih Dinamis
Berbeda dengan kerabat mereka di Baduy Dalam, masyarakat Baduy Luar lebih fleksibel dalam menjalani kehidupan sehari-hari:
- Akses Teknologi: Mereka sudah diperbolehkan menggunakan peralatan modern, mulai dari alat elektronik hingga kendaraan bermotor.
- Penampilan: Pakaian khas berwarna hitam atau biru tua, dilengkapi ikat kepala batik biru, menjadi identitas visual mereka. Tidak seperti Baduy Dalam, mereka juga diperbolehkan memakai alas kaki.
- Ekonomi: Kehidupan ekonomi mereka lebih variatif. Banyak yang menjadi pedagang hasil bumi seperti durian, pembuat gula aren, atau pengrajin kain tenun yang dijual kepada wisatawan.
Keterbukaan ini membuat kehidupan Baduy Luar lebih dinamis, sekaligus memperkuat posisi mereka dalam menghadapi arus perubahan zaman.
Tradisi yang Tetap Dijaga
Meski lebih terbuka, Baduy Luar tetap memegang teguh ajaran Sunda Wiwitan dan patuh pada keputusan Jaro (kepala desa). Salah satu tradisi besar yang masih dijalankan adalah Seba Baduy—ritual tahunan berjalan kaki membawa hasil bumi kepada pemerintah daerah sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa keterbukaan terhadap modernitas tidak berarti meninggalkan akar budaya. Sebaliknya, mereka menjadikan tradisi sebagai fondasi untuk menghadapi perubahan.
Asal-Usul dan Sejarah
Secara turun-temurun, masyarakat Baduy percaya bahwa mereka berasal dari Batara Cikal, dewa yang turun ke bumi untuk menjaga keseimbangan alam. Ada pula versi lain yang menyebutkan bahwa mereka adalah keturunan bangsawan Kerajaan Pajajaran yang mengasingkan diri ke Pegunungan Kendeng saat pengaruh Islam mulai masuk.
Kedua versi ini memperlihatkan betapa kuatnya ikatan sejarah dan mitologi dalam membentuk identitas Baduy Luar.
Kisah Baduy Luar di Cirinten adalah cermin dari dinamika sosial masyarakat adat Kanekes: sebuah komunitas yang mampu membuka diri terhadap teknologi dan ekonomi modern, namun tetap teguh menjaga tradisi leluhur. Mereka adalah contoh nyata bahwa adaptasi tidak harus berarti kehilangan jati diri, melainkan menemukan keseimbangan antara masa lalu dan masa depan.***












