Pantura Jadi Panggung Rezeki Musiman, Pemudik Jadi Korban?

Ratusan warga terlihat berjejer memegang sapu lidi diperbatasan Subang–Indramayu, Jawa Barat, pada Rabu (18/3) sore.

Wapenja.com/Indramayu – Musim mudik kembali menghadirkan fenomena unik di Jalur Pantura Indramayu. Ratusan warga terlihat berjejer di Jembatan Sewo, perbatasan Subang–Indramayu, Jawa Barat, pada Rabu (18/3) sore. Dengan membawa sapu lidi, mereka berdesakan menyapu aspal jalan, berharap mendapatkan uang dari para pemudik yang melintas.

Pemandangan ini menjadi semacam “keberuntungan musiman” bagi warga sekitar. Aktivitas menyapu jalan dilakukan dengan penuh semangat, seolah menjadi ritual tahunan yang ditunggu-tunggu. Namun, di sisi lain, aksi massal ini menimbulkan keresahan. Arus kendaraan terganggu, pengendara harus memperlambat laju, bahkan beberapa pemudik mengaku merasa tidak nyaman karena jalanan yang seharusnya lancar justru dipenuhi kerumunan warga.

Fenomena sapu lidi bukan hal baru di jalur Pantura. Tradisi dadakan ini kerap muncul setiap musim mudik, mencerminkan kreativitas warga dalam mencari penghasilan tambahan di tengah terbatasnya lapangan kerja. Ada yang menganggapnya sebagai bentuk solidaritas lokal, di mana warga berusaha “membersihkan jalan” sambil berharap imbalan sukarela. Namun, ada pula yang menilai praktik ini sebagai bentuk ketidakberaturan yang seharusnya ditangani pemerintah daerah.

Di balik fenomena ini, tersimpan potret kontras antara semangat warga mencari rezeki dan kebutuhan akan ketertiban lalu lintas demi keselamatan pemudik. Jalur Pantura, yang dikenal sebagai salah satu jalur paling sibuk saat mudik, seakan menjadi panggung pertemuan antara kreativitas rakyat kecil dan tantangan besar pengelolaan ruang publik.

Fenomena ini juga menyingkap persoalan lebih dalam: bagaimana kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat setiap musim mudik? Apakah ruang publik sudah dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan praktik-praktik dadakan yang berpotensi mengganggu kenyamanan dan keselamatan?