SBY: Dunia di Ujung Jurang Perang Dunia Ketiga

Wapenja.com/Jakarta – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan keprihatinan mendalam terkait meningkatnya potensi terjadinya Perang Dunia Ketiga. Dalam unggahannya di platform X, SBY menegaskan bahwa ancaman perang global kini semakin nyata dan tidak bisa lagi dianggap sekadar wacana.

“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah,” ujar SBYseperti yang dikutip dari unggahannya di X, Senin (19/01/2026).

SBY menekankan bahwa ruang dan waktu untuk mencegah konflik besar tersebut semakin menyempit dari hari ke hari. Ia mengaku telah mengikuti perkembangan geopolitik dunia selama tiga tahun terakhir dan melihat tanda-tanda yang mengkhawatirkan, mulai dari rivalitas kekuatan besar, perlombaan senjata, hingga konflik regional yang berpotensi meluas.

Sebagai tokoh yang lama mendalami isu perdamaian dan keamanan internasional, SBY menilai dunia berada di titik kritis. Ia menyebutkan rasa cemas dan khawatir jika prahara besar benar-benar terjadi, apalagi bila itu berupa Perang Dunia Ketiga yang dampaknya akan melampaui generasi.

Konteks Global

  • Ketegangan geopolitik: Persaingan antara Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok semakin tajam, terutama terkait Ukraina, Laut Cina Selatan, dan Taiwan.
  • Perlombaan teknologi militer: Pengembangan senjata nuklir, sistem pertahanan canggih, dan perang siber memperbesar risiko eskalasi.
  • Krisis diplomasi: Banyak forum internasional gagal mencapai konsensus, memperlihatkan lemahnya mekanisme global dalam mencegah konflik besar.

Analisis Singkat

  • Pernyataan SBY mencerminkan kekhawatiran global atas eskalasi konflik di berbagai kawasan.
  • Pesan utama: meski ancaman nyata, peluang untuk mencegah perang masih ada, meski semakin terbatas.
  • Implikasi: Indonesia dan dunia internasional perlu memperkuat diplomasi, kerja sama perdamaian, serta mengingatkan kembali pentingnya multilateralisme.

Peringatan SBY bukan sekadar alarm politik, melainkan refleksi dari pengalaman panjangnya sebagai pemimpin yang pernah berhadapan dengan krisis internasional. Suaranya menambah bobot pada diskursus global tentang perdamaian, sekaligus mengingatkan bahwa dunia tidak boleh lengah menghadapi tanda-tanda yang bisa berujung pada tragedi sejarah.