MEMAKNAI HAJAD DALEM LABUHAN GUNUNG MERAPI DI MASA LALU, KINI DAN YANG AKAN DATANG

Oleh: R.Budi Ariyanto Surantono (Ki Ariya Wira Sentana Al Djawi) (*)

—————

Dalam minggu-minggu ini, e-flayer acara Labuhan Dalem di Gunung Merapi berseliweran di media sosial.

Bagi pengamat, pamerti dan pecinta budaya, ini adalah salah satu event penting yang ditunggu-tunggu.

Sebuah ritual yang diselenggarakan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam rangka Peringatan Jumenengan Dalem (Ulang Tahun Kenaikan Tahta) yang diselenggarakan setiap tahun.

Gunung Merapi dan Pantai Parangkusumo di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu venue pelaksanaan hajat Dalem Labuhan tersebut disamping lokasi lain.

Sekitar tahun 2003 (23 an tahun lalu), saya terakhir kali mengikuti prosesi Hajad Dalem Labuhan Gunung Merapi.

Ketika itu Labuhan dipimpin Abdi Dalem Juru Kunci Almarhum Mas Ngabehi (M.Ng.) Surakso Hargo atau akrab dengan Panggilan Mbah Maridjan.

Sama seperti saat ini, malam hari sebelum acara Labuhan, digelar upacara adat dan budaya di kediaman Mbak Maridjan di Dusun Kinah Rejo, Cangkringan, Sleman.

Shalawat, Dzikir, Tahlil dan Kenduri dilaksanakan malam hari jelang upacara Labuhan. Dan juga ada acara pentas seni budaya pada malam tersebut

Sekitar bulan Nopember 2003, Mbah Maridjan rawuh dirumah saya sekedar memberikan restu atas pernikahan yang akan saya laksanakan pada saat itu.

Saat itu beliau sambil menemui Almarhum Mas Agus Wiyarto / Ketua DPRD Bantul) yang kebetulan tetangga saya untuk membahas pagelaran wayang diacara malam labuhan di Kinah Rejo..

“Sok Emben Labuhan Teko Yo”
(besok Labuhan datang ya)

kata kata yang selalu diucapkan Mbah Maridjan setiap ketemu saya jelang upacara Labuhan.

Karena memang, diantara “anak-anak ideologis ” beliau, saya termasuk yang sering tanya kapan Labuhan Merapi akan dilaksanakan.

Dahulu (tahun 2000 an) Upacara Labuhan Gunung Merapi dilaksanakan di tempat yang cukup tinggi, yaitu di “Bale Labuhan Dalem” yang oleh para pendaki Gunung biasa ddisebut dengan Pos II.

Ditempat itu ada Patung berbentuk Rudal berwarna Merah dan Pendopo kecil untuk menggelar upacara Labuhan (saat ini sudah hilang).

Malam hari sebelum Labuhan, “Ubo Rampe” dari Sri Sultan ) Kraton biasanya sudah dikirim ke Dusun Kinah Rejo dan diantar oleh kerabat dekat Sultan.

“Ubo Rampe” itu kemudian di doakan bersama-sama di kediaman Mbah Maridjan sebelum dibawa ke lokasi labuhan esok harinya.

Para Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta dibawah Pimpinan Mbah Maridjan menyiapkan “Ubo Rampe” sesaji berupa makanan yang akan dibawa dalam prosesi Labuhan.

Pagi pagi sekali prosesi Labuhan dilakukan dengan Berjalan kaki menyusuri lereng Gunung Merapi dan sebagian sesaji dibawa oleh kuda yang dituntun Abdi Dalem.

Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta yang bertugas di Gunung Merapi kala itu rata rata sudah sepuh (usia diatas 50 tahun bahkan 70 tahun).

Walaupun berjalan mengenakan busana adat Pranakan khas Abdi Dalem, mereka sangat gesit Mendaki lereng Gunung Merapi yang terjal dan licin.

Para pendaki yang biasa Mendaki Gunung Merapi pun sering kualahan mengikuti langkah Abdi Dalem yang sepuh-sepuh itu dalam mendaki saat ritual Labuhan.

3 jam perjalanan, biasanya rombongan sampai di “Bale Labuhan Dalem” tempat dimana upacara Labuhan biasa di laksanakan.

Dengan duduk bersila mengelilingi sesaji, Mbah Maridjan memimpin Doa secara Islam dengan bacaan dan doa dalam Bahasa arab dan Jawa.

Berdoa bersama kepada Allah Swt agar rakyat Indonesia khususnya Yogyakarta aman dari segala bencana dan mensyukuri atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepada umat manusia.

Semua ciptaan Allah Swt (baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa) disebut dalam doa, seperti unsur-unsur kehidupan manusia (air, angin, api, dll), juga tumbuh-tunbuhan, hewan dan isi alam semesta lainnya.

Termasuk mendoakan makhluk makhluk “ghoib” yang ada di Merapi agar bisa hidup berdampingan dengan umat manusia di sekelilingnya.

Doa ini yang nengandung harapan agar Allah Swt selalu menjaga umat manusia beserta alam Semesta yang menjadi kebutuhan umat agar terus lestari dan tersedia. Dan terjadi keselarasan hubungan antara Allah Swt, manusia dan alam semesta.

Usai Doa bersama, makanan (sesaji) dibagi-bagikan kepada semua yang mengikuti ritual Labuhan Merapi secara merata dengan dibagikan secara tertib dan adil (bukan diperebutkan).

Pembagian makanan sesaji dalam konteks ini adalah sedekah dari Ngarsa Dalem (Raja) kepada rakyatnya.

Suasana heroik sangat terasa ketika pelaksanaan Labuhan bersamaan dengan masa masa erupsi Gunung Merapi yang biasanya terjadi tiap 2-10 tahun sekali.

Gemuruh aktivitas vulkanik Gunung Merapi terasa begitu dekat dan memang lokasi Labuhan (Bale Labuhan Dalem) hanya berjarak 2-3 km dari Puncak Gunung Merapi.

Sehingga suara gemuruh isi “perut” Merapi dan getarannya sangat terasa di lokasi upacara labuhan. Dan inilah keseruan mengikuti prosesi Labuhan di saat Gunung Merapi sedang memasuki masa erupsi kala itu.

Kini upacara Labuhan Gunung Merapi masih terus lestari dan menjadi salah satu kegiatan Hajad Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono turun temurun yang menarik untuk diikuti.

Walaupun kini upacara labuhan tidak lagi di Bale Labuhan Dalem (Pos II), namun “hanya” di Srimanganti (Pos I), hajad Dalem ni tetap terasa sakral dan unik ditengah era modernisasi.

Kini Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta yang mengawal upacara Labuhan di Gunung Merapi sudah mulai banyak generasi muda, termasuk Juru Kunci yang memimpin upacara Labuhan tersebut.

Raden Wedono Suraksohargo atau biasa dipanggil Mas Asih atau Mbah Asih adalah Juru Kunci yang kini mengemban amanah memimpin upacara Labuhan, dan beliau termasuk generasi penerus penjaga adat dan budaya Mataram khususnya di Gunung Merapi.

Mas Asih adalah Putra Mbah Maridjan yang meneruskan tugas mulia menjadi Abdi Dalem Juru Kunci Gunung Merapi. Menjalankan tugas dari Kraton Ngayogyakarta untuk menjadi “penjaga Merapi”.

Kini banyak generasi muda mulai tertarik mengikuti upacara Labuhan Merapi dan kini upacara Labuhan Merapi sudah menjadi acara yang terbuka untuk umum.

Dengan pergeseran ini diharapkan generasi muda semakin merasa cinta dengan adat dan budaya warisan Leluhur Mataram, khususnya mencintai alam dan lingkungannya.

Gunung Merapi selalu mengirimkan pesan dan berkah bagi masyarakat sekitarnya. Dengan mengirimkan jutaan kubik pasir dan batu berkualitas super. Setiap masa erupsi selalu menyemburkan “pupuk alami” berupa abu vulkanik yang membuat tanah disekitarnya menjadi subur.

Namun dibalik itu semua, Merapi juga menjadi ancaman bagi mereka yang gemar merusak keseimbangan alam nya melalui kerakusan dan ketamakan mengambil sumber saya alam Merapi tanpa terkendali.

Beberapa tahun sebelum wafat, Mbah Maridjan pernah berpesan, bahwa jika alam Merapi terus dirusak (oleh penambang penambang liar yang menggunakan alat berat) maka alam akan marah dan murka dengan mendatangkan bencana.

Ritual Labuhan Merapi selain untuk memenuhi kwajiban menjalankan perintah Ngarsa Dalem dan Kraton Ngayogyakarta, juga seharusnya digunakan sebagai media syiar perlunya terus menjaga akan dan lingkungan agar tetap Lestari dan menjadi sumber kehidupan masyarakat disekitarnya.

Menghilangkan kegiatan kegiatan yang berpotensi merusak alam dan bisa membuat akan semesta murka adalah sebuah keharusan yang wajib dijalankan dimasa kini dan masa yang akan datang.

Doa Doa memohon keselamatan yang dipanjatkan saat upacara Labuhan hendaknya diikuti dengan upaya riil menjaga dan melestarikan alam lingkungan Merapi secara bijak.

Sehingga Allah Swt terus menjaga dan mengirimkan Keberkahan serta rezeki kepada umatnya serta menjaga agar rakyat Yogyakarta selalu terjaga aman dari segala bencana dan marabahaya.

 

(*) Penulis adalah putra Ideologis Mbah Maridjan, Founder Mbah Maridjan Institute dan Sentono Dalem Trah Mataram Tinggal di Yogyakarta