Bullying Mengintai Anak di Sekolah, Wakil Wali Kota Bandung: Stop Bullying, Mulai dari Kita!

Wakil Wali Kota Bandung, Dr. H. Erwin, S.E., M.Pd., saat menjadi Keynote Speaker dalam kegiatan Sosialisasi STOP Bullying/Perundungan di Satuan Pendidikan, Jumat (25/9/2026). (instagram @kangerwin_bdg)

Wapenja.com/Kota Bandung — Sekolah semestinya menjadi tempat anak merasa aman untuk belajar, bertumbuh, dan membangun pertemanan. Namun, ketika perundungan masuk ke lingkungan pendidikan, rasa aman itu bisa berubah menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Bandung, Dr. H. Erwin, S.E., M.Pd., saat menjadi keynote speaker dalam Sosialisasi STOP Bullying/Perundungan di Satuan Pendidikan, Jumat (25/9/2026).

Wakil Wali Kota Bandung, Dr. H. Erwin, S.E., M.Pd., (foto instagram @kangerwin_bdg)

Mengusung tema “Perundungan Bukan Akhlak Kita: Membangun Generasi Saling Menghormati & Saling Menyayangi”, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengingatkan seluruh pihak bahwa pencegahan bullying bukan hanya tanggung jawab sekolah.

Kegiatan ini digelar oleh Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bandung bersama Dinas Pendidikan dan DP3A Kota Bandung.

Bukan Sekadar Kenakalan Anak

Erwin menegaskan, perundungan tidak semestinya dipandang sebagai persoalan sepele atau sekadar bagian dari dinamika pergaulan anak.

Menurutnya, bullying dapat memberikan dampak terhadap tumbuh kembang psikologis anak dan generasi muda. Karena itu, upaya pencegahan membutuhkan keterlibatan semua pihak yang berada di sekitar kehidupan anak.

“Perundungan atau bullying merupakan persoalan serius yang harus kita tangani bersama, karena berdampak besar terhadap tumbuh kembang psikologis anak dan generasi muda,” ujar Erwin.

Ia mengajak guru, siswa, orang tua, hingga masyarakat untuk membangun lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak.

Bagi Erwin, pencegahan tidak cukup dilakukan ketika tindakan perundungan sudah terjadi. Budaya saling menghormati dan menyayangi perlu ditanamkan dalam keseharian, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Foto instagram @kangerwin_bdg.

Guru, Orang Tua hingga Siswa Harus Bergerak

Erwin menilai sinergi antara sekolah, keluarga dan lingkungan sosial menjadi bagian penting dalam menciptakan ruang pendidikan yang mampu melindungi anak.

Guru memiliki peran dalam membangun suasana belajar yang aman. Orang tua berperan memberikan pendampingan dan komunikasi kepada anak. Sementara siswa juga perlu didorong untuk memahami pentingnya menghormati teman dan berani mengambil sikap ketika melihat tindakan perundungan.

Foto instagram @kangerwin_bdg.

“Melalui kegiatan ini, saya mengajak seluruh elemen pendidikan—guru, siswa, orang tua, hingga masyarakat—untuk bersama-sama membangun lingkungan sekolah yang aman, ramah anak, serta menumbuhkan budaya saling menghormati dan menyayangi sesama,” katanya.

Bandung Dorong Generasi Berkarakter

Sosialisasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan pendidikan karakter dan perlindungan anak di lingkungan satuan pendidikan.

Foto instagram @kangerwin_bdg.

Erwin menyampaikan apresiasi kepada KPAD Kota Bandung, Dinas Pendidikan, dan DP3A yang telah berkolaborasi menghadirkan program edukatif tersebut.

Ia berharap langkah bersama itu tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan.

“Semoga langkah bersama ini mampu menciptakan generasi Kota Bandung yang berakhlak mulia, berkarakter kuat, dan bebas dari perundungan,” ujar Erwin.

Pesan tersebut kemudian ditutup dengan ajakan sederhana yang ditujukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk mengambil bagian dalam mencegah bullying.

“Stop Bullying, Mulai dari Kita!” pungkasnya.