Mahasiswa Jabar Gelar Aksi “Indonesia Gawat Darurat” di Dago

Wapenja.com/Bandung – Puluhan mahasiswa dari berbagai kampus yang tergabung dalam BEM SI Jawa Barat turun ke jalan pada Jumat (11/9) dengan mengusung tema besar “Indonesia Gawat Darurat”. Demonstrasi ini menjadi sorotan publik karena memperlihatkan konsolidasi lintas kampus, salah satunya dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Massa terlebih dahulu berkumpul di area Kampus ITB, lalu berorasi di Taman Kubus, sebuah titik simbolis yang kerap menjadi ruang ekspresi mahasiswa.

Setelah konsolidasi, barisan mahasiswa bergerak menuju Simpang Dago–Cikapayang. Di sana, mereka membentuk lingkaran besar dan bergantian menyampaikan orasi dengan lantang. Suasana penuh semangat itu diwarnai dengan pengawalan ketat aparat kepolisian dan personel TNI. Arus lalu lintas di kawasan Dago sempat tersendat, menandakan bahwa aksi ini tidak hanya menjadi peristiwa politik, tetapi juga berdampak langsung pada denyut kehidupan kota.

Dalam keterangan resmi, mahasiswa menyoroti bencana kebakaran hutan di Kalimantan dan gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai bukti nyata lemahnya penanganan krisis. Mereka mendesak pemerintah untuk menghentikan sementara program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), yang dinilai tidak relevan di tengah situasi darurat.

Menurut mereka, program populis yang digagas Presiden Prabowo Subianto telah bergeser dari tujuan awal dan justru menimbulkan pemborosan anggaran. Kritik yang dilontarkan mahasiswa menyoroti pola kebijakan yang dianggap berulang: koordinasi lamban, keputusan sepihak, dan minim solusi terhadap akar masalah. “Diam bukan lagi pilihan,” ujar salah satu orator, menegaskan urgensi aksi ini sebagai bentuk perlawanan moral.

Tiga Tuntutan Utama

  1. Menuntut tanggung jawab pemerintah atas krisis dan bencana.
  2. Mengawal penanganan bencana yang efektif dan terukur.
  3. Mendorong kepemimpinan kompeten berbasis good governance.

Demonstrasi ini bukan sekadar protes jalanan, melainkan simbol perlawanan mahasiswa terhadap kebijakan yang dianggap gagal menjawab kebutuhan rakyat. Dengan mengusung tema “Indonesia Gawat Darurat”, mahasiswa ingin menegaskan bahwa suara mereka adalah alarm sosial—peringatan keras bagi penguasa untuk segera berbenah.

Aksi di Dago memperlihatkan bagaimana mahasiswa tetap konsisten menjadi “penjaga nurani bangsa.” Mereka menempatkan diri sebagai oposisi moral yang berani menantang kebijakan pemerintah, terutama ketika rakyat merasa terpinggirkan. Kehadiran mereka di ruang publik menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak hanya hidup di gedung parlemen, tetapi juga di jalanan, di suara-suara lantang yang menuntut perubahan.