Wapenja.com/Sumedang – Sejumlah sekolah di Kabupaten Sumedang tengah menjalani program revitalisasi sarana pendidikan yang didanai melalui APBN Tahun Anggaran 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah pusat untuk memperbaiki ruang belajar dan fasilitas pendukung yang dinilai sudah tidak layak, sehingga dapat menunjang proses pembelajaran secara lebih optimal dan aman bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Dr. Eka Ganjar Kurniawan, menegaskan bahwa penetapan penerima bantuan dilakukan langsung oleh pemerintah pusat berdasarkan data pokok pendidikan (Dapodik) serta hasil verifikasi kondisi sekolah.
“Dinas pendidikan hanya berperan menyiapkan data, membantu verifikasi, dan mendampingi administrasi. Anggaran dikelola langsung oleh pemerintah pusat,” jelasnya. Menurutnya, mekanisme ini memastikan bahwa bantuan benar-benar menyasar sekolah yang paling membutuhkan perbaikan.
Salah satu sekolah penerima bantuan adalah SMPN 2 Jatigede yang memperoleh dana sekitar Rp1,015 miliar. Revitalisasi mencakup tiga ruang kelas, kompleks ruang administrasi yang terdiri atas ruang guru, tata usaha, dan kepala sekolah, serta dua unit toilet untuk siswa dan guru. Pengerjaan dilakukan Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) dengan melibatkan tenaga ahli asal Sumedang serta masyarakat sekitar.
Bendahara sekolah, Nining Kurnaesih, menyebut progres pembangunan telah mencapai 90 persen. “Kini fasilitas belajar jauh lebih representatif dan aman digunakan,” ujarnya. Kondisi ini menjadi jawaban atas kerusakan bangunan yang sejak 2023 mulai mengganggu kenyamanan belajar, seperti atap bocor, lantai rusak, dan kusen kayu yang rapuh.
Program serupa juga berlangsung di SMPN 1 Situraja dengan alokasi dana lebih dari Rp900 juta. Revitalisasi meliputi tujuh ruangan di beberapa blok yang mengalami kerusakan, termasuk plafon yang mulai turun dan kusen yang lapuk.
Kepala sekolah, Euis Royani, mengatakan pekerjaan baru berjalan sekitar 20 persen dan ditargetkan rampung pada November 2026. Selama proses berlangsung, sekolah menerapkan sistem pembelajaran dua shift agar kegiatan belajar tetap berjalan. “Kami berharap pekerjaan selesai tepat waktu sehingga seluruh ruangan bisa kembali digunakan secara optimal,” katanya.
Respon masyarakat terhadap program ini cukup positif. Orang tua siswa menilai perbaikan fasilitas sekolah memberikan rasa aman sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran. Ara Widiana, salah seorang wali murid, mengaku lebih tenang setelah bangunan sekolah diperbaiki. Sebelumnya, ia khawatir kondisi material bangunan yang sudah tua dapat membahayakan siswa selama mengikuti pembelajaran.
Revitalisasi ini bukan hanya soal fisik bangunan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas pendidikan di Sumedang. Dengan ruang kelas yang lebih layak, toilet yang bersih, serta fasilitas administrasi yang tertata, sekolah diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif. Program ini juga memperlihatkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat dalam membangun pendidikan yang lebih baik.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan keberlanjutan pemeliharaan fasilitas agar tidak kembali mengalami kerusakan. Revitalisasi harus diikuti dengan komitmen perawatan rutin, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Dengan adanya program ini, Sumedang menegaskan langkah maju dalam menyediakan sarana pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh.












