Wapenja.com – Kasus ini bermula dari video yang diunggah akun Instagram @sasetyaningtyas, milik Dwi Sasetyaningtyas (DS), alumni LPDP angkatan 2017 yang menempuh studi S2 di Inggris.
Dalam video tersebut, DS melontarkan pernyataan kontroversial: “cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan.” Unggahan itu segera viral di Instagram sebelum menyebar ke platform X (dulu Twitter).
Ribuan netizen meluapkan kemarahan, menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap komitmen kebangsaan. Tagar #LPDP bahkan sempat menduduki jajaran trending topic pada Sabtu pagi (21/2/2026).
Gelombang reaksi publik pun tak terbendung. Sebagian warganet menuntut klarifikasi resmi dari LPDP, menilai lembaga negara yang mengelola dana pendidikan harus bersikap tegas terhadap alumni penerima manfaat. Di sisi lain, muncul perdebatan lebih luas mengenai tanggung jawab moral penerima beasiswa terhadap negara: apakah hak akademik yang diberikan negara otomatis menuntut loyalitas penuh, ataukah kebebasan individu tetap harus dihormati?
Polemik ini menambah daftar panjang kontroversi di media sosial yang melibatkan figur penerima manfaat program pemerintah. Sebelumnya, beberapa alumni LPDP juga pernah disorot karena pernyataan atau sikap yang dianggap tidak sejalan dengan semangat kebangsaan. Kasus DS kini menjadi ujian bagi LPDP dalam menjaga citra lembaga sekaligus menjawab tuntutan publik akan akuntabilitas penerima beasiswa.












