Wapenja.com/Lebak – Hujan deras yang terus mengguyur Kabupaten Lebak selama beberapa pekan terakhir membawa dampak serius bagi sektor pertanian, khususnya komoditas cabai. Tanaman yang menjadi sumber penghasilan utama banyak petani kini rusak parah, bahkan sebagian besar terancam gagal panen.
Di Kampung Jatimulya, Desa Bojong Leles, Kecamatan Cibadak, kondisi lahan cabai terlihat memprihatinkan. Buah cabai yang hampir siap dipanen justru membusuk akibat curah hujan tinggi. Seorang petani, Badrudin (58), mengaku sekitar 1.500 batang cabai di lahan seluas satu hektare rusak dan tidak layak jual.
“Ini namanya patek, buahnya busuk semua. Kurang hasil, jelas rugi,” ujarnya dengan nada pasrah.
Kerugian yang dialami Badrudin ditaksir mencapai Rp20 juta, mencakup biaya bibit, pupuk, perawatan, hingga tenaga kerja. Ia memperkirakan 80 persen tanamannya gagal panen.
“Harapannya ada bantuan dari pemerintah. Soalnya sampai sekarang belum ada yang datang ke sini,” tambahnya.
Fenomena ini bukan hanya ancaman bagi petani, tetapi juga bagi masyarakat luas. Cabai merupakan salah satu komoditas yang sangat memengaruhi inflasi pangan. Jika gagal panen terjadi secara masif, harga cabai di pasaran berpotensi melonjak tajam. Kondisi ini bisa menambah beban ekonomi rumah tangga, terutama menjelang bulan Ramadan yang biasanya diikuti lonjakan permintaan bahan pokok.
Selain itu, hujan berkepanjangan juga memperlihatkan rapuhnya sistem pertanian tradisional yang masih bergantung pada cuaca. Minimnya akses teknologi pertanian modern, seperti rumah kaca atau sistem drainase yang lebih baik, membuat petani di Lebak rentan terhadap perubahan iklim ekstrem.












