Dinamika Internal PBNU Memanas, Tebuireng Jadi Panggung Klarifikasi Gus Yahya

Wapenja.com/Jombang – Pertemuan para kiai sepuh dan Mustasyar Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tebuireng, Sabtu (6/12/2025), menjadi sorotan publik setelah Syuriah PBNU menyampaikan keputusan mencopot KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dari jabatan Ketua Umum PBNU.

Forum berlangsung hangat namun penuh ketegangan, dengan kehadiran tokoh-tokoh besar NU dari berbagai pesantren.

Gus Yahya hadir langsung, sementara Rais A’am KH Miftahul Akhyar berhalangan hadir dan diwakili oleh Muhammad Nuh.

Para kiai sepuh mendengarkan penjelasan Syuriah sekaligus klarifikasi dari Gus Yahya dalam forum yang berlangsung lebih dari lima jam.

Penegasan Syuriah

  • Muhammad Nuh menekankan bahwa keputusan Syuriah mencopot Gus Yahya diambil untuk menjaga supremasi organisasi.
  • Menurutnya, pelanggaran yang dilakukan Ketum PBNU dianggap cukup serius sehingga berujung pada sanksi pencopotan.
  • “Posisi Syuriah adalah penjaga marwah organisasi. Keputusan rapat harian Syuriah sudah final,” ujarnya.

Klarifikasi Gus Yahya

  • Gus Yahya membawa dokumen lengkap untuk membantah tuduhan pelanggaran.
  • Ia menilai keputusan Syuriah tidak sah karena rapat yang digelar dianggap cacat prosedur.
  • “Saya bersyukur bisa bertemu para kiai sepuh. Ini kesempatan untuk menjelaskan duduk perkara secara terbuka,” kata Gus Yahya dengan nada haru.

Pertemuan Tebuireng menjadi titik krusial dalam konflik internal PBNU.

Rekomendasi forum akan dibawa ke rapat pleno PBNU pada 9 Desember 2025, yang diperkirakan menjadi penentu arah kepemimpinan organisasi.

Situasi ini menimbulkan spekulasi luas tentang masa depan NU, terutama menjelang tahun politik yang sarat dinamika.