Tak Masuk Negeri: SSK Jadi Solusi, Siswa Bandung Bisa Lanjut ke SMK MVP ARS Internasional

Wapenja.com/Bandung – Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jawa Barat kembali menegaskan komitmennya dalam menjamin akses pendidikan yang merata bagi seluruh calon murid di Kota Bandung. Keterbatasan kursi di sekolah negeri yang kerap menimbulkan keresahan masyarakat kini diantisipasi melalui program Sekolah Swasta Kerja Sama (SSK). Program ini membuka jalur alternatif agar siswa yang tidak tertampung tetap dapat melanjutkan pendidikan di jenjang SMA dan SMK, sekaligus memperkuat kolaborasi antara sekolah negeri dan swasta sebagai bagian dari strategi pemerataan pendidikan.

Salah satu sekolah mitra yang aktif berpartisipasi adalah SMK MVP (Multi Vocational Platform) ARS Internasional Bandung, berdiri sejak tahun 2009 di bawah naungan Yayasan Graha Bina Pendidikan Internasional. Berlokasi di Jalan Sekolah Internasional No. 1–6, Bandung, sekolah ini telah meraih akreditasi “A” dan dikenal sebagai pionir pendidikan berbasis digital melalui program unggulan “GO DIGITAL!”. Program ini menekankan integrasi teknologi dalam pembelajaran, menjadikan SMK MVP ARS Internasional sebagai salah satu sekolah swasta yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Kepala SMK MVP ARS Internasional Bandung, Mohamad Faizal Usman, S.T., M.M., menegaskan bahwa keberadaan sekolah swasta dalam program SSK menjadi bukti nyata kualitas pendidikan swasta tidak kalah dengan negeri. “Walaupun tidak masuk negeri, swasta tetap menjadi pilihan bagi calon murid baru. Ini bukti kita tidak kalah dari negeri,” ujarnya dalam wawancara dengan media wapenja pada hari Kamis (25/06/2026).

Kepala SMK MVP ARS Internasional, Mohamad Faizal Usman, S.T., M.M. (red/ist)

SMK MVP ARS Internasional saat ini memiliki 8 program keahlian yang mencerminkan kebutuhan dunia kerja modern dan relevansi dengan sektor industri:

  • Tata Boga (Kuliner), mendukung industri kreatif kuliner yang terus berkembang.
  • Perhotelan, menjawab kebutuhan tenaga profesional di sektor pariwisata.
  • Manajemen Perkantoran, menyiapkan tenaga administrasi yang kompeten.
  • Teknologi Farmasi, mendukung sektor kesehatan yang semakin vital.
  • Akuntansi, membekali siswa dengan keterampilan finansial yang dibutuhkan dunia usaha.
  • Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), fokus pada pengembangan aplikasi dan solusi digital.
  • Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), menjawab kebutuhan tenaga IT di era digital.
  • Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM), relevan dengan industri otomotif yang terus tumbuh.

Dalam implementasi program SSK, sekolah ini mengajukan 1 rombel dengan kapasitas 25 siswa, sesuai dengan daya tampung sebesar 10–15%. Sedangkan yang dikerjasamakan ada 5 program keahlian, yaitu; program Teknik otomotif, PPLG (RPL), Farmasi, Akuntansi dan Manjemen Perkantoran.

Selain itu, terdapat 3 kuota beasiswa Pancawaluya yang diberikan kepada siswa berprestasi, sebagai bentuk dukungan terhadap pemerataan kesempatan belajar dan penghargaan atas prestasi akademik.

Panitia SPMB ketika menerima calon pendaftar. (red/ist)

Faizal juga menyoroti arahan dari KCD Wilayah VII yang mendorong sekolah swasta memiliki sister school dari negeri sebagai pendamping. Menurutnya, konsep ini membuka peluang kolaborasi lebih luas, tidak hanya dalam hal penerimaan siswa, tetapi juga dalam pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, penyediaan sarana-prasarana, hingga kerja sama dengan dunia usaha dan industri (DUDI). “Ke depan bukan hanya siswa yang bisa dikerjasamakan, tetapi juga aspek kurikulum, guru, alat, SOP, DUDI, hingga mutu,” jelasnya.

Langkah ini menandai transformasi penting dalam tata kelola pendidikan di Jawa Barat. Kolaborasi negeri-swasta bukan lagi sekadar solusi darurat untuk menampung siswa, melainkan strategi jangka panjang dalam menciptakan sistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing. Dengan adanya program SSK, pemerintah menegaskan bahwa setiap anak berhak atas kesempatan belajar tanpa diskriminasi status sekolah.