Wapenja.com/Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan permohonan maaf atas insiden keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Jakarta Timur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kasus ini langsung menjadi sorotan publik karena menyangkut keselamatan anak-anak sekolah dan kredibilitas program pemerintah yang digadang-gadang sebagai solusi gizi nasional (04/04).
Kronologi Kejadian
- Korban tersebar di beberapa sekolah:
- SDN Pondok Kelapa 09: 33 siswa
- SDN Pondok Kelapa 01: 37 siswa
- SDN Pondok Kelapa 07: 31 siswa
- SMAN 91: 34 siswa
- Total korban mencapai lebih dari 135 siswa yang mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Para siswa segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sejumlah orang tua mengaku panik karena anak-anak mereka mendadak jatuh sakit setelah jam makan siang. Situasi ini menimbulkan keresahan luas di masyarakat, terutama karena program MBG sebelumnya dipromosikan sebagai langkah strategis untuk menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi anak sekolah.
Tanggung Jawab BGN
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa:
- BGN akan menanggung seluruh biaya pengobatan korban.
- Operasional dapur yang terkait langsung dihentikan sementara untuk investigasi.
- BGN berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh agar insiden serupa tidak terulang.
Selain itu, BGN berjanji akan memperketat standar pengawasan dapur penyedia makanan, termasuk sistem distribusi dan penyimpanan bahan pangan. Pemerintah daerah juga diminta ikut mengawasi pelaksanaan program di lapangan.
Polemik Tambahan
Kasus ini semakin disorot publik setelah beredar video pemilik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Hendrik Irawan, yang berjoget sambil menyebut insentif Rp6 juta per hari dari program MBG.
- Aksi tersebut memicu kritik warganet yang menilai sikap Hendrik tidak peka terhadap tragedi yang sedang terjadi.
- Publik mempertanyakan apakah insentif besar tersebut benar-benar sebanding dengan kualitas layanan yang diberikan, terutama ketika terjadi kelalaian fatal seperti keracunan massal.
Insiden ini menyoroti lemahnya pengawasan dalam program pemerintah yang seharusnya berorientasi pada kesehatan anak. Di satu sisi, program MBG bertujuan mulia untuk meningkatkan gizi siswa. Namun, kasus keracunan massal menunjukkan adanya celah serius dalam standar keamanan pangan dan akuntabilitas pengelola.
Lebih jauh, kasus ini membuka perdebatan tentang transparansi anggaran dan efektivitas program sosial. Publik kini menuntut agar BGN tidak hanya meminta maaf, tetapi juga melakukan reformasi sistem pengadaan, distribusi, dan pengawasan makanan sekolah.












